AlmaghfurlahKH A Idris Marzuki saat diwawancarai tim penulis buku Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda, tahun 2010, menguatkan pernyataan yang disampaikan Gus Mus di atas. Beliau menuturkan bahwa Kiai Mahrus Ali itu sangat kuat dalam memaksa dan menahan diri supaya bisa mempeng (sangat tekun belajar). Kiai Mahrus mereka AbdulKarim selaku pengasuh Pondok Pesantren berkenan hadir bersama KH. Ma'ruf Kedunglo dan KH. Abu Bakar Bandar Kidul dengan dikawal oleh Agus Abdul Madjid Ma'ruf. Ketika Jepang mengadakan latihan di Cibasura Bogor, Residen Kediri, R. Abd. Rahim Pratalikrama memohon kesediaannya KH. Mahrus Ali untuk berangkat sebagai utusan daerah Kediri. MustofaBisri: Keistimewaan Shalawat KH. Mahrus Aly. Sebelum menimba Ilmu di Lirboyo, Kiai Mahrus pernah mondok di Kasingan, Rembang, untuk berguru kepada Kiai kholil, kakek saya. Bahkan saat Kiai Mahrus itu putra-putranya sudah jadi kiai semua, beliau tetap saja masih suka mondok kemana-mana. Beliau lama sekali mondok di Kasingan. Setiapmaqam bagi salik bisa menghasilkan ahwal aalik, berikut maqam-maqam salik: Taubat, dengan hati yang sungguh-sungguh dan penjara hati bisa menghasilkan mahabbah kepada Allah BiografiKiai Lirboyo KH. Mahrus Aly ( 1907 - 1985 ) 9 September 2015 kang santri 2 Comments KH. Mahrus Aly lahir di dusun Gedongan, kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dari pasangan KH Aly bin Abdul Aziz dan Hasinah binti Kyai Sa'id, tahun 1906 M. Beliau adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu. KH. Mahrus Aly lahir di dusun Gedongan, kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dari pasangan KH Aly bin Abdul Aziz dan Hasinah binti Kyai Sa’id, tahun 1906 M. Beliau adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Masa kecil beliau dikenal dengan nama Rusydi dan lebih banyak tinggal di tanah kelahiran. Sifat kepemimpinan beliau sudah nampak saat masih kecil. Sehari-hari beliau menuntut ilmu di surau pesantren milik keluarga. Beliau diasah oleh ayah sendiri, KH Aly dan sang kakak kandung, Kiai Afifi. Saat berusia 18 tahun, beliau melanjutkan pencarian ilmu ke Pesantren Panggung, Tegal, Jawa Tengah, asuhan Kiai Mukhlas, kakak iparnya sendiri. Disinilah kegemaran belajar ilmu Nahwu KH. Mahrus Aly semakin teruji dan mumpuni. Selain itu KH. Mahrus Aly juga belajar silat pada Kiai Balya, ulama jawara pencak silat asal Tegal Gubug, Cirebon. Pada saat mondok di Tegal inilah KH. Mahrus Aly menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 M. Di tahun 1929 M, KH. Mahrus Aly melanjutkan ke Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah asuhan KH. Kholil. Setelah 5 tahun menuntut ilmu di pesantren ini sekitar tahun 1936 M KH. Mahrus Aly berpindah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Karena sudah punya bekal ilmu yang mumpuni KH. Mahrus Aly berniat tabarukan di Pesantren Lirboyo. Namun beliau malah diangkat menjadi Pengurus Pondok dan ikut membantu mengajar. Selama nyantri di Lirboyo, beliau dikenal sebagai santri yang tak pernah letih mengaji. Jika waktu libur tiba maka akan beliau gunakan untuk tabarukan dan mengaji di pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, asuhan KH. Hasyim Asy’ari. Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang, asuhan Kiai Dalhar dan juga pondok pesantren di daerah lainnya seperti; Pesantren Langitan, Tuban, Pesantren Sarang dan Lasem, Rembang. KH. Mahrus Aly mondok di Lirboyo tidak lama, hanya sekitar tiga tahun. Namun karena alimnya kemudian KH. Abdul Karim menjodohkan dengan salah seorang putrinya yang bernama Zaenab, tahun 1938 M. Pada tahun 1944 M, KH. Abdul karim mengutus KH. Mahrus Aly untuk membangun kediaman di sebelah timur Komplek Pondok. Sepeninggal KH. Abdul Karim, KH. Mahrus Aly bersama KH. Marzuqi Dahlan meneruskan tambuk kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo. Di bawah kepemimpinan mereka berdua, kemajuan pesat dicapai oleh Pondok Pesantren Lirboyo. Santri berduyun-duyun untuk menuntut ilmu dan mengharapkan barokah dari KH. Marzuqi dahlan dan KH. Mahrus Aly, bahkan ditangan KH. Mahrus Aly lah, pada tahun 1966 lahir sebuah perguruan tinggi yang bernama IAIT Institut Agama Islam Tribakti. KH. Mahrus Aly ikut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan dan ini nampak saat pengiriman 97 santri pilihan Pondok Pesantren Lirboyo, guna menumpas sekutu di Surabaya, peristiwa itu belakangan dikenal dengan perang 10 November. Hal ini juga yang menjadi embrio berdirinya Kodam V Brawijaya. Selain itu KH. Mahrus Aly juga berkiprah dalam penumpasan PKI di sekitar Kediri. KH. Mahrus Aly mempunyai andil besar dalam perkembangan Jamiyyah Nahdlatul Ulama, bahkan beliau diangkat menjadi Rois Syuriyah Jawa timur selama hampir 27 Tahun, hingga akhirnya diangkat menjadi anggota Mustasyar PBNU pada tahun 1985 M. Senin, 04 Maret 1985 M, sang istri tercinta, Nyai Hj. Zaenab berpulang ke Rahmatullah karena sakit Tumor kandungan yang telah lama diderita. Sejak saat itulah kesehatan KH. Mahrus Aly mulai terganggu, bahkan banyak yang tidak tega melihat KH. Mahrus Aly terus menerus larut dalam kedukaan. Banyak yang menyarankan agar KH. Mahrus Aly menikah lagi supaya ada yang mengurus beliau, namun dengan sopan beliau menolaknya. Hingga puncaknya yakni pada sabtu sore pada tanggal 18 Mei 1985 M, kesehatan beliau benar-benar terganggu, bahkan setelah opname selama 4 hari di RS Bhayangkara Kediri, beliau dirujuk ke RS Dr. Soetomo, Surabaya. Delapan hari setelah dirawat di Surabaya dan tepatnya pada Hari Ahad malam Senin Tanggal 06 Ramadlan 1405 H/ 26 Mei 1985 M, KH. Mahrus Aly berpulang ke rahmatullah. Beliau wafat diusia 78 tahun. al Fatihah… Kisah selengkapnya bisa Anda lihat di buku Tiga tokoh Lirboyo. 15 Ulama kharismatik pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri salah satunya adalah KH Mahrus Aly. Selain seorang yang alim alamah, dikenal gigih berjuang di Nahdlatul Ulama NU, serta turut mempertahankan perjuangan setelah kemerdekaan. Banyak amanah yang diemban, selain pengasuh pesantren, tercatat hingga wafat sebagai Rektor Universitas Tribakti, Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Tercatat juga sebagai Mustasyar PBNU, Ketua Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah RMI, Penasihat Pangdam V Brawijaya dan seterusnya. Disarikan dalam Buku 3 Tokoh Lirboyo’ oleh Tim Sejarah BPK P2L Pondok Pesantren Lirboyo, cetakan kedua belas, KH Mahrus Aly dilahirkan dari ayah bernama KH Aly bin Abdul Aziz dan Hashinah binti Said pada 1906. Orang tua ibu Hashinah, KH Said, adalah pendiri dan pengasuh pondok yang alim alamah dengan sembilan anak. Terdiri dari lima anak putra dan empat anak putri dari pernikahan dengan Nyai Maimunah binti Mutta'ad. Mereka adalah Aminah, Nahrowi, Nafisah, Fathimah, Hasanah, Abdul Karim, Usman Sukainah dan Siroj. Dari pernikahan Kiai Said dengan Arminah yang lebih dikenal dengan Nyai Bunut, lahir dua orang putra lagi, Murtadlo dan Shofiyah. Ketika Hashinah, putri yang kelima sudah menginjak akil baligh, Kiai Said menjodohkannya dengan pemuda Aly, putra Kiai Abdul Aziz Pengasuh Pondok Pesantren Wotbogor, Singaraja, Indramayu. Pernikahan itu dilangsungkan sepulang Aly dari Tanah Suci setelah selama empat tahun berada di Mekkah menuntut ilmu. Di sana, dia ditemani oleh adiknya, Anwar, serta keponakannya, Agus bin Yusuf. Setelah resmi menjadi menantu Kiai Said, Kiai Aly ditempatkan di Gedongan untuk membantu di pesantren asuhan mertuanya. Dari pernikahan dengan Nyai Hanshinah, Kiai Aly dikaruniai sembilan anak terdiri dari enam putra dan tiga putri. Mereka adalah Muchtar, Ahmad Afifi, Harmalah Mulya, Muslihah, Ismatul Maula, Jalaludin, Yazid, Bilal dan terakhir Mahrus. Sosok Pemberani Rusydi, demikian nama kecil KH Mahrus Aly, lahir dan besar dalam lingkungan pesantren. Hidup di bawah bimbingan dan pengawasan orang alim. Inilah yang menyebabkan kepribadian Rusydi tumbuh sesuai harapan orang tua dan familinya. Yakni menjadi orang baik, berbudi luhur, dan berbakti kepada orang tua. Beberapa pondok pesantren yang telah disinggahi dalam menuntut ilmu, hingga akhirnya berlabuh di Pesantren Lirboyo Kediri oleh asuhan KH Abdul Karim. Selama di Lirboyo, Haji Mahrus terkenal santri yang tidak pernah letih dalam mengaji. Di waktu liburan, dia mencari pondok lain untuk mengikuti pengajian kilatan. Pernah ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang mengaji kitab Shahih Bukhari pada KH Hasyim Asy’ari. Setelah tiga tahun menimba ilmu di Lirboyo, karena kealiman dan kelebihan KH Mahrus muda membuat Mbah Manab nama lain KH Abdul Karim menjodohkan salah satu putrinya yang bernama Zaenab. Sejak kecil terkenal pemberani, sewaktu Mayor Mahfudh menghadap Kiai Mahrus di Lirboyo. Kepada beliau dikabarkan bahwa, Sekutu yang diboncengi Belanda hendak mendarat di Surabaya. Pasukan hendak kembali menjajah Indonesia yang sudah merdeka. Di seputar Tanjung Perak terjadi pertempuran sengit antara Arek-arek Surabaya melawan tentara Sekutu. Mendengar berita itu, spontan Kiai Mahrus berkata Kemerdekaan ini harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan. Beliau tegaskan pula bahwa santri Lirboyo siap membantu Arek-arek Surabaya yang mati-matian melawan Sekutu. Jauh sebelumnya, dirinya sudah mempersiapkan diri. Bersama para ulama yang terhimpun dalam jam'iyah NU mengeluarkan resolusi jihad, yaitu pada Konggres di Surabaya tanggal 21-25 Oktober 1945. Awalnya sejumlah 97 santri diberangkatkan ke Surabaya dengan bersenjatakan bambu runcing dan senjata tradisional. Mereka siap mati di medan laga di bawah komando langsung Kiai Mahrus. Mereka tergabung dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah. Pasukan pertama in berhasil gemilang dengan merampas sejumlah senjata lawan. Dengan modal senjata rampasan inilah, rencana menjadi berkembang. Tiap sata peleton santri ditarik, satu peleton lagi dikirimkan. Hal ini berlanjut hingga pecah perang 10 November yang berakhir dengan terbunuhnya Jenderal Inggris, AWS Mallaby. Keikutsertaan Kiai Mahrus mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia kala itu tidak sebatas pada pengiriman santri ke medan laga. Lebih dari itu, Kiai Mahrus bersama para santri setiap malam mengadakan gerakan batin agar pasukan yang tengah bertempur diberi keteguhan iman. Kalau pun mesti gugur, diterima sebagai syahid. Kegiatan gerakan batin itu dipusatkan di dua tempat, yaitu di Pondok Lirboyo dan di Manukan, Jabon, Kediri. Yang di Lirboyo dipimpn KH Abdul Karim dan KH Marzugi Dahlan. Sedang, di Manukan dikomandoi KH Mahrus dan KH Said. Pasukannya dari santri yang akan dikirim ke Surabaya, Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Perjuangan belum usai dalam mempertahankan kemerdekaan, ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada tanggal 12 Desember 1948 beliau kembali mengerahkan santrinya untuk ikut di medan perang. Empat santri senior yang dikirim di bawah komando Mayor Mahfudh ialah Syafi’i Sulaiman, Muhid Ilyas, Muhammad Masykur, dan Mahfudh AK. Banyak menggunakan taktik gerilya dan sporadis berkali-kali menyerang tapi tidak dalam satu fron. Perjuangan berlangsung hingga penyerahan kedaulatan melalui perjanjian Konferensi Meja Bundar KMB di Deen Hag 27 Desember 1949. Batalyon 508 yang lebih dikenal dengan Batalyon Gelatik adalah embrio dari Kodam VII Brawijaya kini Kodam V resmi didirikan pada 17 Desember 1948 di Lapangan Kuwak sekarang Stadion Brawijaya bertindak sebagai komandan adalah Kolonel Sungkono. Sementara KH Mahrus Aly mendapat kehormatan sebagai penasihat. Inilah sebabnya KH Mahrus diakui sebagai sesepuh Kodam V Brawijaya sampai akhir hayat. Suami Setia Semenjak kemangkatan Nyai Zainab 4 Maret 1985, KH Mahrus sering jatuh sakit. Sebenarnya banyak yang menghendaki untuk beristri lagi agar ada yang merawat. Bahkan, tidak sedikit yang melamar dan bersedia mendampingi agar tidak terus-menerus larut dalam kedukaan. Namun, saran dan lamaran itu ditolak. Justru sering menyatakan ingin segera menyusul sang istri tercinta. Pernyataan itu disampaikan di hadapan sejumlah santri dalam kesempatan memberikan ijazah Hirzul Jausan di serambi masjid Pondok Lirboyo, 3 Sya'ban 1405 H / 22 April 1985. “Kalau saya diberi umur panjang oleh Allah, semoga saya selalu diberi kesehatan. Dan kalau tidak, saya mengharap dipanggil hari Senin. Sebab, Rasulullah dipanggil Allah SWT pada hari Senin. Begitu pula Kiai Abdul Karim dan istri,” ungkapnya. Kitab Hirzul Jausan baru kali itu diijazahkan kepada orang lain sejak diterima dari salah seorang gurunya, Syaikh Musthofa, Lasem, Rembang. Di sela-sela menyampaikan ijazah, selalu mengisahkan kebaikan sang istri. Ketika itu, seakan pamit hendak meninggalkan dunia fana. Kenyataan memang membuktikan, itulah kesempatan Kiai Mahrus bertatap muka dengan para santri untuk yang terakhir kali. Berkutat dengan Sakit Sudah lama Kiai Mahrus mengidap penyakit diabetes melitus kencing manis, paru-paru, dan ginjal. Berbagai penyakit itu berangsur sembuh setelah itu kambuh lagi. Pada Ahad malam, 12 Mei 1985, dirinya merasa tidak enak badan. Semula menduga hanya masuk angin. Namun, pada paruh malam, sakit itu dirasakan semakin parah. Keesokan harinya, salah seorang putrinya membawa ke dokter dengan tanpa mengira jika akhirnya harus merujuk ke RS Bhayangkara Kediri. Hal itu karena kondisi yang tidak juga membaik. Setelah empat hari opname di rumah sakit, Kiai Mahrus minta pulang walau sebenarnya tidak diperbolehkan dokter. Melihat kondisi yang semakin kritis, para dokter dan perawat berikut segala peralatan medis yang dibutuhkan didatangkan ke kediamannya di Lirboyo. Sebenarnya Kiai Mahrus berharap agar dapat dirawat di rumah saja. Tapi, Pangdam V Brawijaya, Saiful Sulun, meminta agar dirawat di Surabaya. Pangdam tentu tidak lupa mengingat jasa-jasa Kiai Mahrus di Kodam V Brawijaya. Juga mengingat fatwanya masih dibutuhkan dalam menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan negara. Setelah mengadakan musyawarah, pihak keluarga menyetujui permintaan Pangdam tersebut. Sebab, Kiai Mahrus memang bukan hanya milik keluarga, tapi juga bermakna bagi masyarakat dan ABRI. Apalagi, ada keterangan dokter bahwa Kiai Mahrus kemungkinan bisa disembuhkan. Pada Sabtu sore 18 Mei 1985, Kiai Mahrus yang dalam keadaan koma dibawa ke Surabaya dengan Helikopter milik TNI AL yang dikirim atas perintah Pangab LB Moedani. Diantar oleh putra-putrinya dirujuk ke RSUD dr Soetomo. Tenaga medis yang menangani antara lain dr Khairuddin dari Juanda, dr Askandar Tjokroprawiro dari RSUD dr Soetomo, dr Suharjono Sujono, dr Karijadi Wijiatmoko Direktur RSUD dr Soetomo, dr Tommy dan seterusnya. Kiai Mahrus berencana membaca 6 buah kitab yang sudah diumumkan di serambi masjid Lirboyo. Antara lain, kitab Al Mahluf, Sulamul Munawwarah, Latha'iful Isyarah, Nashaihud Dinimiyyah, Dalailul Khairat, dan Hirzul Jausan. Menjelang Ramadan tiba, jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Perawatan intensif dilakukan terus-menerus. Toh kondisinya tidak semakin membaik. Menurut dokter, kondisi yang paling baik terjadi pada Jumat, 24 Mei. Tapi, pada Jumat sore, keadaannya kembali kritis. Bahkan, lebih kritis dari sebelumnya. Sehingga, alat bantu pernapasan yang semula dipasang di hidung, di pindah ke tenggorokan. Menteri Agama mengucapkan terima kasih kepada Pangdam V Brawijaya atas segala bantuannya. Menteri Agama juga meminta kepada tim dokter untuk melakukan pertolongan maksimal. Tapi, sekitar dua jam setelah Menteri Agama meninggalkan rumah sakit, Kiai Mahrus berpulang ke rahamatullah. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un, akhirnya wafat tepat pada hari Ahad malam, 6 Ramadlan 1405 H / 26 Mei 1985, dalam usia 78 tahun, di rumah sakit dr. Soetomo, Surabaya setelah dirawat selama delapan hari. Berita wafatnya Kiai Mahrus diterima KH M Anwar Manshur menantunya di Lirboyo lewat telepon pada pukul WIB. Tiga puluh menit kemudian orang-orang yang melayat mulai berdatangan dari berbagai kalangan. Antara lain, Bupati Kediri Drs. Oesri Astradireja dari Muhammadiyyah yang secara resmi diwakili oleh H. S. Prodjokusumo Ketua PP Muhammadiyah yang hadir bersama Menteri Agama dan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid. Sedang, Pangab Moerdani hanya mengirimkan utusan karena berhalangan hadir. Begitu juga Gubernur Jatim, Wahono, yang tengah berada di Jepang. Tapi wakil Gubernur, Suparmanto, Kapolda Jatim, serta para Bupati dan Walikota berikut jajaran Muspida Tingkat II se-Jatim tampak hadir diantara ribuan pelayat. Bahkan, diantara mereka tampak juga orang-orang keturunan Tionghoa, orangorang bule, dan rohaniawan Kristen. Ratusan karangan bunga tanda ikut berduka cita memenuhi halaman kediaman beliau sehingga tidax semuanya bisa ditempatkan di pemakaman. Ada yang dari Presiden Soeharto, Wakil Presiden, Menteri menteri Kabinet Pembangunan IV, Ketua Mahkamah Agung, Panglima ABRI, Pemda Tingkat II se-Jatim, dan hampir semua direksi serta administrator perusahaan di Kediri. Karena terlalu membanjirnya para pelayat, jenazah baru dikebumikan pada pukul WIB. Secara khusus, Pangdam V Brawijaya Mayjen Saiful Sulun mengerahkan anak buahnya untuk ikut menertibkan prosesi pemakaman yang dibanjiri lautan manusia. Umat Islam, khususnya warga NU, betul-betul merasa kehilangan tokoh masyarakat yang menjadi panutan. Berbagai pihak menyatakan rasa bela sungkawa atas meninggalnya Kiai Mahrus. Pangdam V Brawijaya Saiful Sulun menyatakan bahwa dirinya dan ABRI umumnya merasa kehilangan sepeninggal beliau. Ulama kharismatik sekaliber Kiai Mahrus bukan saja bermanfaat bagi integritas kepemimpinan umat Islam, tapi juga sangat bermanfaat bagi stabilnya hankamnas yang menjadi tolok ukur. Kiai Mahrus wafat 87 hari setelah istri tercinta lebih dulu berpulang ke rahmatullah. Meninggalkan 7 orang putra-putri. Sedang, yang 7 lainnya juga sudah mendahului. Jenazah dimakamkan di pemakaman keluarga di belakang masjid Pondok Pesantren Lirboyo. Pembacaan talkin disampaikan oleh KH Adlan Ali, pengasuh Pondok Cukir, Jombang. Selesai pemakaman hujan turun deras, meski sedang kemarau panjang. Hujan pun seakan turut mengiringi ulama besar itu meninggalkan dunia fana, manghadap Sang Maha Abadi. Kiai mahrus telah pergi meninggal untuk selama-lamanya. Menggoreskan kenangan, menorehkan bakti, dan menaburkan jasa untuk terus diperjuangkan. Semoga Allah menempatkannya di taman Firdaus yang damai. Annallaha yarfa’u darajatan fil jannah, AlFatihah. KH. Mahrus Aly – KH. Mahrus Ali lahir di dusun Gedongan, kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dari pasangan KH Aly bin Abdul Aziz dan Hasinah binti Kyai Sa’id, tahun 1906 M. Beliau adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Masa kecil beliau dikenal dengan nama Rusydi dan lebih banyak tinggal di tanah kelahiran. Sifat kepemimpinan beliau sudah nampak saat masih kecil. Sehari-hari beliau menuntut ilmu di surau pesantren milik keluarga. Beliau diasah oleh ayah sendiri, KH Aly dan sang kakak Kandung, Kyai Afifi. Saat berusia 18 tahun, beliau melanjutkan pencarian ilmu ke Pesantren Panggung, Tegal, Jawa Tengah, asuhan Kyai Mukhlas, kakak iparnya sendiri. Disinilah kegemaran belajar ilmu Nahwu KH. Mahrus Ali semakin teruji dan mumpuni. Selain itu KH. Mahrus Ali juga belajar silat pada Kyai Balya, ulama jawara pencak silat asal Tegal Gubug, Cirebon. Pada saat mondok di Tegal inilah KH. Mahrus Ali menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 M. Ali menimba ilmu Pada pengasuh pondok pesantren kasingan,Hampir lima tahun menimba ilmu di Pondok Kasingan kemudian Ali minta Izin kepada gurunya untuk pulang kerumahnya . Ketika sampai dirumahnya di Gedongan Ali lagi lagi mendapat sambutan dari para santri dan keluarganya dengan penuh penghormatan . Mereka para santri kagum akan kecerdasan Kh Mahrus Ali dalam memahami Kitab Alfiyah . Rupanya Allah memberikan Futuh Pembuka hati & Ilmu berkat doa Munajat dan riyadhoh sang Ibu kepada dirinya. Semangat Mencari IlmuAndil dalam Pertempuran 10 Nopember 1945 Semangat Mencari Ilmu Tak puas dengan bekal ilmu yang dimiliki, Kh Mahrus Ali meminta izin kepada ibunya untuk menimba Imu di Pesantren Lirboyo, Tahun 1936 Kh Mahrus Ali belajar di Lirboyo di bawah asuhan karim . Melihat kecerdasan yang dimiliki Kh Mahrus Ali membuat gurunya terkagum kagum dan jatuh hati pada Ali, maka sang Guru meminta kepada Kh Mahrus Ali untuk mau menjadi mantunya. Maka tahun 1938 Ali menikah dengan putri gurunya bernama zainab. Kh. Mahrus Ali sangat mencintai ilmu maka tak heran Beliau selalu berpindah pindah dari pesantren yang satu kepesantren yang lain , hal ini beliau lakukan sekedar bertabarruk kepada para ulama seperti ke Pondok pesantren tebuireng asyari, Pondok-Pesantren Watu congol muntilan MagelangKh Dalhar pondok pesantren Langitan tuban dll. Andil dalam Pertempuran 10 Nopember 1945 Ali juga dikenal sebagai Ulama pejuang yang pemberani , beliau juga ikut serta Pada Pertempuran 10 Nopember 1945 melawan tentara sekutu di Surabaya. H. Mahfudz seorang Komandan Peta pembela tanah air yang mula-mula menyampaikan berita gembira tentang kemerdekaan Indonesia itu kepada KH. Mahrus Ali, lalu diumumkan kepada seluruh santri lirboyo dalam pertemuan diserambi masjid. Dalam pertemuan itu pula, para santri lirboyo diajak melucuti senjata Kompitai Dai Nippon yang bermarkas di Kediri markas itu kini dikenal dengan dengan Markas Brigif 16 Brawijaya Kodam Brawijaya . Tepat pada jam berangkatlah para santri Lirboyo sebanyak 440 menuju ke tempat sasaran dibawah komando KH. Mahrus Ali dan Mayor H Mahfudz. Sebelum penyerbuan dimulai, seorang santri yang bernama Syafi’I Sulaiman yang pada waktu itu berusia 15 tahun menyusup ke dalam markas Dai Nippon yang dijaga ketat. Maksud tindakan itu adalah untuk mempelajari dan menaksir kekuatan lawan. Setelah penyelidikan dirasa sudah cukup, Syafi’i segera melapor kepada KH. Mahrus Ali dan Mayor H Mahfudz. Saat-saat menegangkan itu berjalan hingga pukul dini hari dan berakhir ketika Mayor Mahfudz menerima kunci gudang senjata dari komandan Jepang yang sebelumnya telah diadakan diplomasi panjang lebar. Dalam penyerbuan itu , gema Takbir “Allohuakbar ” berkumandang menambah semangat juang para Santri , aroma Surga dan Mati syahid telah mereka rindukan, pada akhirnya penyerbuan itu sukses dengan gemilang. Selang beberapa lama, Mayor melapor kembali kepada Kyai Mahrus Ali di Lirboyo bahwa Tentara sekutu yang memboncengi Belanda hendak mendarat di surabaya,pasukan itu akan kembali menjajah Indonesia yang sudah merdeka. Mendengar itu Spontan Kyai Mahrus Aly mengatakan bahwa kemerdekaan harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan. Kemudian KH. Mahrus Ali mengintruksikan kepada santri lirboyo untuk berjihad kembali mengusir tentara Sekutu di Surabaya. Baca Juga Syaikh Yasin al-Fadani, Profil Singkat Maka dipilihlah santri-santri yang tangguh untuk dikirim ke Surabaya untuk bergabung dengan Mujahid lainya. Dengan gagah Ali berangkat bersama dengan para santri santri Lirboyo untuk berjuang merampas kembali kemerdekaan Indonesia. Ketika Belanda melancarkan Agresi militer kedua,Kyai Mahrus kembali menurunkan santrinya di medan pertempuran. Kyai yang terkenal dengan pasukan berani mati ini wafat Hari senin Tanggal 06 Ramadlan 1405 H atau 26 Mei 1985, dalam usia 78 tahun,dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Lirboyo. Sheeran, Coldplay, Maroon 5, The Beatles e mais...Vagalume VibeSelena Gomez, Dua Lipa, Ed Sheeran, Justin Bieber e mais...Sertanejo HitsMarília Mendonça, Henrique e Juliano, Jorge e Mateus, Gusttavo Lima e mais...GospelAline Barros, Fernandinho, Gabriela Rocha, Bruna Karla e mais...

silsilah kh mahrus ali lirboyo