2 Ugrasena. Penguasa kerajaan berikutnya, Ugrasena atau Ratu Sri Ugrasena, berada di pusat pemerintahannya di Singhamandawa pada masa pemerintahannya antara 915 dan 942. Beberapa sumber mengatakan bahwa pemerintahan Raja Ugrasena sama dengan pemerintahan MPU dari Dinasti Isyana di Jawa Timur.
Sampaisaat ini, belum ditemukan silsilah keturunan Pengeran Salman ke atas, apakah beliau termasuk dari keturunan Nabi Muhammad saw atau murni keturunan raja-raja Parsia yang telah memeluk Islam. Karena di silsilah yang dikeluarkan Kesultanan Brunei dan Kesultanan Sulu tidak disebutkan asal keturunannya. Hanua Sinjai dan Cermin Kelokalan
Direktoriini berbentuk excel file yang memuat nama-nama raja dari Datuak Sri Maharaja Diraja dan Tuanku Rajo Tianso. Untuk sementara sampai saat ini (240 Nama) baru di lingkungan keluarga Inti yaitu Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat serta perangkat seperti Panitahan Sungai Tarab.Sara menggunakan cukup mudah, cukup dengan melakukan sort pada :
SilsilahKeturunan Kenari / Kerancauan dalam Pemberian Nama Beberapa penghobi termasuk saya masih bingung dengan istilah F1, F2, F3, dan AF. Istilah "F" ini secara kasar dapat dikatakan sebagai "keturunan". Bila "F1" berarti "keturunan kesatu", bila "F2" berarti "keturunan kedua", demikian pula seterusnya (red: setahu
Inilahriwayat yang menceritakan sejarah Bone dan raja-rajanya berdasarkan cerita para pendahulu (Attoriolong ri Bone). Alkisah bahwa setelah pupusnya keturunan Puatta Menreq-E ri Galigo, keadaan negeri diwarnai dengan kekacauan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya arung (raja) sebagai pemimpin yang mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat.
Vay Tiį»n Trįŗ£ Góp Theo ThĆ”ng Chį» Cįŗ§n Cmnd Hį» Trợ Nợ Xįŗ„u.
- Dari Silaturahmi Akbar Ana' Eppona Mappajung'e WATAMPONE,-Sejumlah tokoh, baik yang berkiprah di dunia politik, militer, birokrasi, hingga pengusaha di negeri ini, baik di tingkat nasional, regional, dan lokal, terdapat sejumlah keturunan Raja Bone. Hal itu terungkap, saat Komunitas Seni dan Budaya di Kabupaten Bone, Tunreng Tellue, menggelar silaturahmi akbar Ana' Eppona Mappajung'e yang digelar di Bola Soba Saoraja Petta Ponggawae, Minggu, 19 Januari, lalu, yang menghadirkan akademisi, budayawan, serta pemerhati budaya. Salah satunya, tokoh yang masih keturunan Raja Bone, yaitu Mendiang mantan Panglima ABRI, Jendral Purn A M Jusuf. Semasa hidupnya, Andi M Jusuf, pernah menjabat sebagai Panglima ABRI pada periode 1978 - 1983. Ditelusuri berdasarkan silsilah Raja Bone, dari garis ayahnya, mendiang yang semasa hidupnya merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah kemiliteran Indonesia ini memiliki garis keturunan dari Raja Bone ke-24, La Mappatunru To Appasessu. Selain itu, terdapat pula mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Alifian Mallarangeng, masih memiliki garis keturunan bangsawan Bone. Salah seorang pemerhati budaya di Kabupaten Bone, H Andi M Yusman Batara Aji, mengatakan, berdasarkan silsilah Raja Bone, terdapat sejumlah tokoh di negeri ini yang berkiprah di sejumlah bidang dan memiliki garis keturunan Raja ke- 23, La Tenri Tappu To Appaliweng. Dia menjelaskan, dari perkawinan La Tenri Tappu To Appaliweng dengan We Pada Uleng Arung Timurung itulah, Raja ke-23 ini memiliki 13 anak, yaitu Batara Tungke Arung Timurung,La Mappatunru To Appasessu yang kemudian menggantikan tahta ayahnya menjadi Raja Bone ke-24, We Manneng Arung Data yang merupakan Raja Bone ke-25, serta La Pawawoi Arung Sumaling. Selain itu, kata dia, Raja Bone ke-26, La Mappaseling Arung Pannyili, La Tenri Sukki Arung Kajuara, We Kalaru Arung Pallengoreng, Mamuncaragi Arung Malaka, serta La Tenri Bali Arung Ta', La Mappaewa Arung Lompu, dan La Paremma Rukka Arung Karella, La Temmu Page Arung Paroto Petta Ponggawa Bone, dan La Patuppu Batu Arung Tonra. "Berdasarkan lontarak Bilang La Tenri Tappu, menyebutkan anak pertama La Tenri Tappu To Appaliweng dengan We Pada Uleng Arung Timurung, yaitu Batara Tungke Arung Timurung,"ujarnya. Dia menjelaskan, anak pasangan Raja Bone ke-23, La Tenri Tappu To Appaliweng dengan We Pada Uleng Arung Timurung melahirkan La Mappatunru To Appasessu yang juga merupakan Raja Bone ke-24,La Mappatunru To Appasessu. Dari garis keturunan La Mappatunru To Appasessu itu, terdapat sejumlah tokoh di negeri ini, diantaranya mantan Panglima ABRI, Jendral Purn A M Jusuf, mantan Gubernur Sulsel, Brigjen TNI Purn Andi Oddang, mantan Sekretaris Provinsi Sulsel, Andi Muallim, dan mantan Bupati Bone, Andi Baso Amir, mantan Wakil Ketua DPRD Bone sekaligus budayawan di daerah ini, Andi Palloge Petta Nabba. Terkait garis keturunan dari MendiangJendral Purn A M Jusuf itu. Andi M Yusman Batara Aji ini menjelaskan, diawali dari garis keturunan La Mappatunru To Appasessu, kemudian garis keturunan itu menurun ke La Pabbenteng Daeng Lawa. Selanjutnya, dari perkawinan La Pabbenteng Daeng Palawa dengan I Nyonyo Arung Gona melahirkan Upe Arung Tarasu yang kemudian memperistri Nini Petta Sali, dari perkawinan itulah, lahirlah Andi Tappu Amir Arung Kajuara yang kemudian memperistri Petta Bunga . Andi Tappu Amir Kajuara dan Petta Bunga inilah kedua orangtua dari mendiang Andi M Jusuf. Sedangkan, dari perkawinan Andi Tappu Amir Arung Kajuara dengan Petta Sanna, lahirlah mantan Bupati Bone periode 1967 - 1969, Andi Baso Amir. "Jadi antara mendiang Andi M Jusuf dan Andi Baso Amir masih anak dari Andi Tappu Amir Arung Kajuara, tapi beda ibu,"jelas Andi M Yusman. Selain itu, Asisten I Pemprov Sulsel Andi Herry Iskandar, Andi Herry Iskandandar, merupakan keponakan dari Andi M Jusuf yang merupakan anak dari saudara Andi M Jusuf, yaitu Andi Iskandar. Tokoh lainnya, yaitu mantan Gubernur Sulsel, Brigjen TNI Purn Andi Oddang, masih merupakan keturunan dari La Mappatunru To Appasessu. Keturunan La Mappatunru To Appasessu lainnya, mantan Walikota Administrasi Watampone dan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat BPM Provinsi Sulsel, Andi Mangunsidi Massarappi, dan mantan Bupati Barru, Andi M Mansyur Sultan, mantan Wakil Bupati Bone, Andi Said Pabokori, dan mantan Kepala Disperindag Kabupaten Bone, Andi Sultan Pawi. Selain itu pula, masih garis keturunan Raja Bone ke-24, La Mappatunru To Appasessu, yaitu Ketua DPC Demokrat Kabupaten Gowa yang juga mantan calon Bupati Gowa, Andi Maddusila Andi Idjo. Pasalnya, kata dia, ayah Andi Maddusila, yaitu Raja Gowa ke-36, Andi Idjo Karaeng Lalolang merupakan anak dari Raja Gowa ke-35, I Mangi-Mangi Daeng Tutu Karaeng Bontonompo dari perkawinan dengan I Kunjung Daeng Nginga Karaeng Tana-tana yang merupakan anak dari I Bungasa. Keturunan Raja Bone ke-29, Singkeru Rukka ini menambahkan, I Bungasa sendiri merupakan cucu dari Raja Bone ke 24, La Mappatunru Appasessu. Tak hanya itu, ibu dari Raja Gowa ke-35, I Mangi-Mangi Daeng Tutu Karaeng Bontonompo, yaitu Bau Tenri Pada Arung Berru tak lain adalah saudara dari Raja Bone ke-29, Singkeru Rukka. Sedangkan keturunan lain dari La Tenri Tappu To Appaliweng, melalui garis keturunan Lapawawoi Arung Sumaling, juga terdapat salah satu pengusaha sukses, Andi Amran Sulaiman, yang juga Direktur Utama PT Tiran Group Indonesia. Garis keturunan anak La Tenri Tappu To Appaliweng, yaitu La Mappaewa Arung Lompu, diantaranya tokoh perjuangan Sulawesi Selatan yang juga mantan Gubernur Sulawesi, Andi Pangerang Pettarani, yang tak lain merupakan anak Raja Bone ke 32, Andi Mappanyukki. "Andi pangerang Pettarani merupakan keturunan bangsawan Kerajaan Gowa dan Bone,"ujar keturunan Raja Bone ke-29, Singkeru Rukka ini. Dari garis anak La Tenri Tappu To Appaliweng lainnya, yaitu La Temmu Page Arung Paroto terdapat garis keturunan mantan Bupati Bone, Andi Idris Galigo dan Bupati Bone saat ini, Andi Fahsar M Padjalangi."Keduanya memang masih memiliki garis keturunan yang sama,"kata Andi M Yusman. Selain itu pula, terdapat mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Alifian Mallarangeng itu dari garis ayahnya, Andi Mallarangeng. Kakek Alifian, Andi Kenkeng Petta Tappu Arung Cina, merupakan garis turunan La Temmu Page Arung Paroto Petta Ponggawa Bone. Dia menjelaskan, masih banyak keturunan Raja Bone lainnya, hanya saja sudah tersebar di sejumlah wilayah di nusantara ini. Bahkan ada beberapa keturunan bangsawan dan raja di Kerajaan Bone yang bermukim pula di sejumlah wilayah di Malaysia. Menanggapi keturunan bangsawan yang terdapat sejumlah tokoh dan berkecimpung di berbagai bidang di negeri ini, budayawan di Kabupaten Bone, H A M Youshand Tenri Tappu, mengakui terdapat sejumlah tokoh di negeri ini yang merupakan keturunan bangsawan dan sejumlah raja di Kerajaan Bone, salah satunya Jenderal Andi M Jusuf. Selain itu, kata dia, banyak pula pemimpin di suatu daerah, contohnya bupati yang masih keturunan bangsawan maupun raja di Kerajaan Bone, karena tidak dapat dipungkiri telah terjadi pereratan hubungan kerajaan melalui sistem perkawinan. Sehingga keturunan atau bangsawan Kerajaan Bone itulah yang menetap di sejumlah wilayah, yang kemudian keturunannya menjadi pemimpin atau kepala daerah di kemudian hari. "Untuk memperat persaudaraan dan kekerabatan, Raja Bone saat itu memperistri sejumlah keturunan raja atau keturunan raja yang menikah dengan raja lainnya. Sistem perkawinan itulah sehingga terjadi kekerabatan antara Kerajaan Bone dengan kerajaan lainnya di Sulsel,"tandasnya. Guru besar Unhas, Prof Dr Mahmud Tang MA, menilai pentingnya membangun jaringan kekerabatan dalam bingkai kesatuan dan persatuan di era demokrasi. Di era demokrasi saat ini, pandangan orang bisa berbeda, akan tetapi jika masuk dalam lingkup budaya, hubungan kekerabatan itu haruslah tetap terjaga. Sementara itu, Dr Suryadi Mappangara M Hum, lebih jauh membahas peranan kerajaan Bone masa lampu dan bagaimana kerajaan itu membangun jaringan dengan kerajaan lainnya.
Pengaplikasian Ranji dan Silsilah Raja-Raja di Minangkabau Artikel menarik ini dikutip dari ācucu Stialamās siteā http// ditulis dalam bahasa Malaysia campur Minang dengan judul āApo Maksud Silsilah Raja-Raja di Minagkabauā. Catatan Nama Raja Pagaruyung sebelum Adityawarman dalam artikel ini adalah Angkerawarman, di berbagai literatur nama mamak dari Adityawarman adalah Akarendrawarman. ================================================= Apa dia maksud Silsilah ? Bagaimana mau meluruskan sejarah Minangkabau kerana ia tidak bisa hanya berdasarkan sebuah silsilah yang di susun kemudian, samada para ahli atau pakar sehebat apapun⦠inilah kata-kata Datuk Bungsuā mengingatkan kepada orang-orang luar yang datang dengan silsilah untuk menunjukkan hubungkait keluarga mereka dengan keluarga asal di Minangkabauā¦. SILSILAH adalah hubungkait antara keluarga sekaum dalam bentuk tertulis atau bertulis. Hubungkait antara sekaum ini berdasarkan garis bapak secara patrilineal. Unsur utamanya adalah garis keturunan dari lelaki ke lelaki. Sedangkan hubungkait antara keluarga sekaum berdasarkan garis ibu secara matrilineal, disebut RANJI. Bagi masyarakat Minangkabau yang mengerti dengan hukum adat, RANJI ADALAH LEBIH PENTING DARI SILSILAH. Ranjilah yang dipedomani oleh semua orang, apakah seseorang itu berhak dan boleh menyandang gelar Datuk didalam kaumnya ataupun tidak. Sebab, seorang penghulu di dalam kaum, ibunya haruslah dari kaum ibunya sendiri. Jadi, seorang penghulu tidak perlu diangkat suku lain, tetapi harus diakui oleh kaumnya. Ranji kaum disusun oleh kaum itu sendiri. Tidak mungkin ranji sebuah kaum di Pagaruyung, disusun atau dikotak katik oleh orang lain dari daerah lain. Dengan maksud lain, tidak akan ada sebuah kaum dalam menyusun ranjinya dengan cara āmintak angok kalua badanā⦠Sekiranya benar-benar ada orang-orang yang ingin meluruskan sejarah di Minangkabau, mereka harus mempedomani naskah-naskah tua warisan orang-orang terdahulu yang sudah diakui semua pihak, seperti TAMBO PAGARUYUNG. Didalam Tambo Pagaruyung kedua bentuk hubungkait itu sengaja dicantumkan, gunanya untuk menjaga keaslian keturunan Raja-Raja Pagaruyung berikutnya. Garis perwarisan secara patrilineal merupakan payung cadangan bagi seorang penerjun bila payung utamanya tidak mengembang diudara. Artinya, garis sistem patrilineal hanya dipakai apabila tidak ada lagi keturunan menurut garis matrilineal. Oleh kerana itulah didalam Tambo Pagaruyung dicantumkan pepatah adat yang menyebut, ā adat rajo turun tamurun, adat puti sunduik basunduikā. TAMBO PAGARUYUNG, adalah RANJI dan SILSILAH dari Raja-Raja Pagaruyung yang telah dimulai sejak sebelum Adityawarman menjadi Raja Pagaruyung sampai kepada Daulat Yang Dipertuan Sultan Alif Khalifatullah. Tambo Pagaruyung pada masa itu disampaikan secara lisan turun temurun. Setelah baginda memerintah, penulis-penulis istana yang sudah memahami bahasa surat, menyalin Tambo Pagaruyung ke dalam tulisan Arab-Melayu dalam bentuk syair-syair. Tradisi penyalinan Tambo Pagaruyung diteruskan oleh Daulat Yang Dipertuan Fatah ayahanda dari Sultan Alam Bagagar Syah, Raja Pagaruyung yang ditangkap Belanda dan dibuang ke Betawi. Baginda Sultan Fatah adalah generasi ketujuh setelah Sultan Alif Khalifatullah. Para ahli dan para penulis istana tulisan Arab-Melayu itu ditranskripsikan ke dalam tulisan Latin, budaya tulis yang dibawa oleh penjajahan Belanda. Namun transliterasi itu masih dalam bahasa Minangkabau lama. Terakhir, Tambo Pagaruyung disalin dan disusun oleh ahli waris Raja-Raja Pagaruyung itu sebagaimana sebuah silsilah yang dikenal dalam penulisan silsilah zaman moden. Generasi pewaris kerajaan yang menyusun ranji dan silsilah itu adalah generasi ketujuh pula dari Sultan Fatah. Dengan demikian, setiap tujuh generasi Tambo Pagaruyung terus disempurnakan. ā Satitiak indak ilang, sabarih indak lupoā. Tambo Pagaruyung adalah rujukan dan pedoman bagi siapa-siapa yang seharusnya menjadi Raja. Mereka yang tidak menjadikan Tambo Pagaruyung sebagai rujukan dalam pelurusan sejarah Kerajaan Pagaruyung, sama saja dengan āmanggantang asokā atau ācurito si Miun di lapau tapi tabiangā. Raja di Pagaruyung bukan diturunkan dari ayah kepada anak laki-laki, tetapi kepada anak laki-laki dari saudara perempuan. Orang Minang mengekalkan aturan pewarisan ini dalam pantunnya Biriak-biriak turun ka samak Dari samak ka halaman Dari niniak turun ka mamak Dari mamak ka kamanakan Maksud pantun itu adalah, bahwa pewarisan harus dari mamak ke kemenakan dan itulah juga inti hubungan saparuik atau sistem matrilineal itu. Pewarisan menurut garis matrilineal seperti ini sudah berlangsung semenjak Raja Pagaruyung yang bernama Raja Angkerawarman menyerahkan mahkota kerajaannya kepada kemenakannya Adityawarman. Hal itu kemungkinan kerana Adityawarman adalah anak dari Puti Dara Jingga, yang merupakan saudara perempuan sepupu dari Raja Angkerawarman. Artinya, Adityawarman menerima penobatannya menjadi Raja dari mamaknya. Seandainya Adityawarman hanya mahu meraja-rajakan diri saja, tanpa jelas siapa yang memberikan wewenang kepadanya, dipastikan perkara ini akan ditolak oleh seluruh orang Minangkabau masa itu. Tetapi oleh kerana dia menerima waris Raja itu dari mamaknya, itulah sebabnya dia diakui sebagai Raja Pagaruyung. Seandainya Minangkabau pada masa itu menganut sistem patrilineal, tentulah Adityawarman harus menjadi Raja di Majapahit bukan di Minangkabau. Ketentuan adat seperti ini tidak banyak datuk-datuk yang tahu, kerana mereka terlalu sombong dan menganggap pengetahuannya sudah cukup untuk berkaok-kaok mahu meluruskan sejarah Minangkabau. Padahal ketentuan adat seperti ini sudah dibakukan dalam UNDANG- UNDANG TANJUANG TANAH. Sudah ā basuluah matoari, bagalanggang mato urang banyakā. Sudah ditulis dan dibukukan, sudah diteliti secara keilmuan. Buku Undang-Undang Tanjung Tanah itu adalah sebuah dokumen sejarah tertua kerajaan Melayu Minangkabau yang ditemukan oleh sarjana asing di daerah sekitar Kerinci. Kalau benar-benar mahu meluruskan sejarah, sebelumnya harus mengerti dan faham dengan berbagai istilah yang lazim digunakan didalam pewarisan menurut hukum adat Minangkabau sebagaimana yang tercermin dalam Tambo Pagaruyung. Ada yang di sebut sapiah balahanā. iaitu maksudnya adalah, keturunan raja dari pihak perempuan secara matrilineal yang di rajakan diluar Pagaruyung. Sekiranya keturunan raja yang ada di Pagaruyung punah, mereka sapiah balahanā itu berhak mewarisi dan melanjutkan kerajaan. Jika sapiah balahan masih ada, belum akan diserahkan pewarisan raja kepada pihak lain, apalagi kepada datuk-datuk yang tidak mempunyai kaitan dengan keturunan raja Pagaruyung. Kemudian dari itu ada yang disebut kuduang karatanā. Maksudnya adalah, keturunan raja Pagaruyung itu dari pihak sebelah laki-laki. Mereka pula tidak dapat menjadi raja di Pagaruyung, sekalipun pewaris raja Pagaruyung itu punah. Mereka hanya berhak menjadi raja pada daerah-daerah yang telah ditentukan bagi mereka untuk menjadi raja. Kenapa? kerana mereka tidak berada dalam lingkar garis matrilineal, kerana ibu mereka bukan dari keturunan raja Pagaruyung. Selanjutnya ada juga yang disebut kapak radai, dan timbang pacahanā. Kedua kelompok ini pula terdiri dari orang-orang besar, raja-raja di rantau, datuk-datuk perangkat raja Pagaruyung yang diangkat dan diberi penghormatan oleh raja Pagaruyung. Tetapi malangnya ada sebahagian dari mereka sudah menganggap pula sebagai keturunan raja Pagaruyung, padahal mereka hanya kaki tangan raja saja. Menurut Datuk āBungsuā lagi , āTIDAK MUNGKIN ADA SUATU ATURAN ADAT YANG BERLAKU DI RANAH MINANG SEKARANG, KALAU TIDAK ADA YANG MENYUSUNNYAā¦ā. Pasti ada sebuah kekuasaan yang TELAH menetapkan aturan-aturan itu. Seandainya datuk-datuk saja yang menyusun aturan-aturan yang sebegitu rumit secara bersama-sama , dipastikan tidak akan kunjung selesai, kerana setiap datuk merasa dirinya merdeka dan punya pemikiran sendiri-sendiri. Oleh kerana itulah, semua aturan adat Minangkabau yang ada dan dijalankan sampai sekarang adalah warisan dari struktur pemerintahan kerajaan Pagaruyung dahulu. Jika dahulu merupakan aturan sebuah kerajaan, sekarang sudah menjadi aturan adat dan budaya. Struktur adat demikian, dicatat dan dihuraikan dalam RANJI LIMBAGO ADAT ALAM MINANGKABAU. Sekiranya seseorang itu ingin mempelajari atau mahu meluruskan sesuatu sejarah di Minangkabau, mereka mestilah mengetahui dan mempelajari dari naskah-naskah tua yang ada di Minangkabau tersebut. Naskah ā naskah ini ada yang namanya TAMBO ALAM MINANGKABAU, yang berisi tentang kisah asal usul orang Minang termasuk juga sebagian silsilah raja-raja dan beberapa latar belakang terbentuknya aturan-aturan adat. Ada pula yang namanya TAMBO ADAT MINANGKABAU atau UNDANG-UNDANG ADAT MINANGKABAU yang berisi aturan-aturan dan tatacara yang berlaku dalam kehidupan orang Minang. Ada pula yang namanya TAMBO PAGARUYUNG yang berisi ranji dan silsilah keturunan dan ahli waris Raja Raja Pagaruyung. Ada juga yang di sebut naskah TAMBO DARAH yang berisi ketentuan Raja Pagaruyung mengirim putera-puteranya ke delapan negeri untuk dirajakan disana. TAMBO DARAH ini juga dikenali dengan SURAT WASIAT SULTAN NAN SELAPAN. Ada pula naskah yang disebut RANJI LIMBAGO ADAT ALAM MINANGKABAU., yang merupakan struktur dari kerajaan Pagaruyung itu. Jadi ternyata orang-orang Minang dahulu sudah sangat RAPI menyusun aturan adat dan ranjinya. Apa yang mereka orang-orang Minang jalankan sekarang, adalah ketentuan-ketentuan yang sudah berlaku sejak sekian lama, ā TIDAK DIBUAT- BUAT DAN TIDAK PULA DIKARANG- KARANG ā. Didalam RANJI LIMBAGO ALAM MINANGKABAU,.. āpohon ada pucuknya, adat juga ada pucuknyaā. PUCUK ADAT itu adalah Raja Pagaruyung yang terdiri dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat. Ketiga Raja ini merupakan sebuah kesatuan yang utuh kerana masing-masingnya berasal dari keturunan yang sama,. Three in one Ketiga raja ini disebut juga RAJO TIGO SELO. RAJO TIGO SELO dalam menjalankan pemerintahannya dibantu oleh beberapa orang besar atau BASA yang kumpulannya disebut BASA AMPEK BALAI, semacam dewan menteri atau kabinet. Empat orang besar ini mempunyai tugas. bidangkuasa tertentu dan tempat kedudukan atau wilayah sendiri pada nagari-nagari yang berada di sekeliling pusat kerajaan Pagaruyung. Pertama, Datuk Bandaro Putiah yang bertugas sebagai Panitahan atau TUAN TITAH mempunyai kedudukan di Sungai Tarab dengan gelar kebesarannya PAMUNCAK KOTO PILIANG. Panitahan merupakan pimpinan, kepala atau yang dituakan dari anggota Basa Ampek Balai dalam urusan pemerintahan umpama Perdana Menteri. Kedua, Tuan Makhudum yang berkedudukan di Sumanik dengan gelar ALUANG BUNIAN KOTO PILIANG yang bertugas dalam urusan perekonomian dan kewangan umpama Menteri Kewangan. Ketiga, Tuan Indomo yang berkedudukan di Saruaso dengan gelar PAYUNG PANJI KOTO PILIANG yang bertugas dalam urusan pertahanan dan perlindungan kerajaan. Umpama Menteri Pertahanan seperti yang ada sekarang. Keempat, Tuan Kadhi yang berkedudukan di Padang Ganting dengan gelar SULUAH BENDANG KOTO PILIANG yang bertugas mengurus masaalah-masaalah keagamaan dan pendidikan. Selain Basa Ampek Balai sebagai pembantu Raja, juga dilengkapi dengan seorang pembesar lain yang bertugas sebagai panglima perang yang setara dengan anggota Basa Ampek Balai lainnya. Beliau ini disebut Tuan Gadang yang berkedudukan di Batipuh dengan gelar HARIMAU CAMPO KOTO PILIANG. Tuan Gadang ini bukanlah anggota dari Basa Ampek Balai tetapi kedudukanya setara dengan masing-masing anggota Basa Ampek Balai iaitu tetap takluk kepada raja. maklumat-maklumat dalam tulisan ini diambil dari waris keturunan Rajo Alam Pagaruyung Filed under Lintasan Sejarah Minangkabau, Pengaplikasian Ranji dan Silsilah Raja-Raja di Minangkabau Tagged Adat Minangkabau, Bali, Business, Dari Persian, Indonesia, Lintas Sejarah Minangkabau, Loan, Malay language, Malay styles and titles, Malaysia, Minangkabau
SILSILAH RAJA RAJA JAWA SILSILAH RAJA RAJA JAWA Punika Serat Asalipun para penjenengan Nata. Ugi Putra Wayahdhalem sedaya. Kawiwitan saking Hingkang Sinuhun Prabu Brawijaya V, Hingkang Pamungkas. Mugi handadosna kahuningan sarta wonten klinta-klintu kulo nyuwun samodra pangaksami. PADUKA SINUHUN PRABU BRAWIJAYA V PAMUNGKAS di Majapahit tahun 1334. Hingkang Sinuhun Prabu BRAWIJAYA V, memperistri Gusti Kanjeng Ratu Handarawati, putri Campa. Dalam riwayat Sang Prabu memegang Kekuasaan selama 50lima puluh tahun, karena ayahnda menjadi raja hanya 4empat tahun. Memperoleh banyak keturunannya sebanyak 100seratus putera-puteri. Dan penulis disini hanya menyajikan 91 sembilan puluh satu putera-puteri, sedangkan yang meninggal tidak. Nama putera puteri Sang Prabu BRAWIJAYA, adalah sebagai berikut Raden Jaka Dilah, menjabat Adipati di Palembang; Raden Jayapanulih, menjabat Adipati di Sumenep; Putri Ratna Pambayun, menikah dengan Prabu Srimakurung Handayaningrat, di Pengging yang terakhir. Dewi Manik, menikah dengan Hario Gumangsang; Hario Lembu Peteng, menjabat Adipati di Madura; Hario Dewa Ketul, menjabar Adipati di Bali; Raden Jaka Prabangkara; Raden Jaka Krewet, menjabat Adipati di Borneo Kalimantan; Raden Jaka Kretek, menjabat Adipati di Makasar Sulawesi; Raden Surenggana; Raden Sujana, menjabat Adipati di Palembang; Putri Ratna Bintara, menikah dengan Adipati Nusabrong; Raden Fatah Syam Alam Akbar Sultan Demak I pertama; Raden Bundan Kajawan Kiyai Ageng Tarup III; Ratu Ayu, menikah dengan Hajar Windusana; Raden Gajah Pramana; Putri Ratna Marsandi, menikah dengan Juru Paniti; Putri Ratna Marlangen, menikah dengan Adipati Marlangen; Putri Ratna Sataman, menikah dengan Hario Jaranpanulih; Putri Ratna Satamin, menikah dengan Hario Bangah, di Pengging; Batara Katong, menjabat Adipati Katong, di Ponorogo; Raden Gugur, Sunan Lawu; Putri Kanistren, menikah dengan Hario Baribin, di Madura; Putri Kaniraras, menikah dengan Hario Pekik, di Pengging; Dewi Ambar, menikah dengan Hario Partaka; Raden Hario Surongsong, meninggal di Kedu. Raden Hario Wangsa, nama gelar Kyai Ageng Pilang; Raden Jaka Dandun, nama gelar Syeh Belabelu; Raden Jaka Dander, nama gelar Nawangsaka; Raden Jaka Balot, nama gelar Kidangsana; Raden Jaka Barak, nama gelar Carang Gana; Raden Jaka Paturih, nama gelar Pacangkringan; Putri Dewi Sampur; Raden Jaka Laweh, nama gelar Duruan; Raden Jaka Jaduk, nama gelar Malang Sumirang; Raden Jaka Balut, nama gelar Megatsari; Raden Jaka Suwung; Putri Dewi Sukati; Raden Jaka Tarwa, nama gelar Banyakwulan; Raden Jaka Maluwa, nama gelar Banyak Modang; Raden Jaka Lanang, nama gelar Banyak Bakung; Raden Jaka Langsing, nama gelar Banyakputra; Putri Dewi Rantang; Raden Jaka Semprung, nama gelar Kiyahi Ageng Brandet; Raden Kunijang, nama gelar Hario Tepos; Raden Jaka Lemboso, nama gelar Hario Pacetlondo; Raden Jaka Lirih; Raden Jaka Lawu; Putri Dewi Paniwet; Raden Jaka Barong; Raden Jaka Bindho, nama gelar Baratketigo; Raden Jaka Blabur, nama gelar Saputarup; Raden Jaka Budu, nama gelar Tawangbalun; Raden Jaka Tarikbolong; Raden Jaka Lengis, nama gelar Jejeran; Raden Guntur; Raden Jaka Malot; Raden Jaka Sinorang, nama gelar Sulangjiwa. Raden Jaka Jatang, nama gelar Singapadu; Raden Jaka Karawu, nama gelar Macanpuro; Raden Jaka Krendo, nama gelar Panulahar; Raden Jaka Jinggring, nama gelar Norowito; Raden Jaka Salembar, nama gelar Panangkilan; Raden Jaka Tangkeban, nama gelar Wanengwulan; Raden Jaka Buras, nama gelar Palingsingan; Raden Jaka Kaburu, nama gelar Pasingsingan; Raden Jaka Lambang, nama gelar Hasticepi; Raden Jaka Lumuru, nama gelar Katawangan; Raden Jaka Doblang, nama gelar Yudasara; Raden Jaka Golok, nama gelar Jatinom; Raden Jaka Bluwa, nama gelar Syeh Sekardali; Raden Jaka Wayah, nama gelar Syeh Bubukjanur; Raden Jaka Pandak, nama gelar Syeh Kaliatu; Raden Jaka Bodho, nama gelar Kiyai Ageng Majastra; Raden Jaka Gapyuk, nama gelar Kiyai Ageng Palesung; Raden Jaka Sengara, nama gelar Pangayat; Raden Jaka Supeno, nama gelar Kiyai Ageng Tembayat; Raden Jaka Pangawe, nama gelar Raden Singunkara; Raden Jaka Turas, nama gelar Raden Hadangkoro; Raden Jaka Suwanda, nama gelar Raden Jaka Lelana; Raden Jaka Suwarno, nama gelar Raden Jaka Tanengkung; Raden Jaka Ketul, nama gelar Raden Lembaksiu; Raden Jaka Dalun, nama gelar Gagakpranolo, dimakamkan di pasarean Astana Laweyan Solo; Raden Jaka Wirun, nama gelar Raden Sarasidho; Raden Jaka Sumeno, nama gelar Raden Kenitan; Raden Jaka Besur, nama gelar Raden Saragading; Raden Jaka Gatot, nama gelar Raden Balaruci; Raden Jaka Raras, nama gelar Raden Notosanto; Raden Jaka Paniti, nama gelar Raden Panurta; Raden Jaka Paniti, nama gelar Raden Lawangsari, dan Raden Jaka Sawunggaling. Diantara keturunan Prabu BRAWIJAYA V Pamungkas, sebanyak 8delapan putera-puteri pindah dan berkedudukan di pulau Bali, beserta banyak punggawa abdi dalem dan rakyat pengikutnya kawulo. Mereka mendirikan kerajaan dan menurunkan para Stede houwer, Raja-raja. Menurut asalnya masyarakat di Bali terdapat dua turunan adalah 1. Keturunan Bali asli; 2. Keturunan Majapahit. RUNTUH KERAJAAN MAJAPAHIT Para Wali menobatkan putra Prabu BRAWIJAYA V yang ke 13tigabelas di Majapahit, bernama Raden Fatah, satriya dari Glagahwangi, nama gelar Adipati Notopraja. Kerajaan pindah ke Jawa Tengah, dengan ibukotanya Demak. Kemudian nama gelar beliau Sultan Bintara Ipertama, atau diebut juga dengan gelar nama Syah Alam Akbar, memegang kekuasaan kerajaan selama 5lima tahun. Setelah wafat kedudukan beliau digantikan oleh putranya Raden Prawata, nama gelar Sultan Bintara IIkedua, memegang kekuasaan kerajaan selama 2dua tahun. Setelah wafat digantikan saudaranya Raden Trenggono, nama gelar Sultan Bintara IIIketiga, memegang kekuasaan kerajaan selama 33tiga puluh tiga tahun. Mereka dimakamkan dibelakang masjid Demak. Dalam riwayat putra Sultan Bintara IIkedua bernama Hario Penangsang, satriya di Jipang tidak menyetujui penobatan Sultan Trenggono, sehingga terjadi perang antara Hariao Penangsang dengan Jaka Tingkir Sultan Pajang adalah sebagai putra mantu Sultan Demak III di Demak. Karena kerajaan Demak tahun 1458 pindah ke Pajang. Perang dimulai oleh pihak Raden Danag Sutawijaya, yang dipimpin oleh Kiyai Ageng Jurumartani, beliau adalah kakek pamannya, disertai pula oleh Kiyai Agneg Pati, serta ayhnda Kiyai Ageng Pemanahan. Dan dalam riwayat Raden Hario Penangsang gugur dalam medan perang. Raden Danang Sutawijaya, diberikan hadiah tanah wilayah Mantaok; sedangkan Kiyai Ageng Penjawi mendapat hadiah tanah wilayah Pati. PUTRA PUTRI DALEM KANJENG SULTAN BINTARA III RADEN TREANGGONO Keturunan Sultan Bintara III, sebanyak 10sepuluh putera puteri, adalah 1. Panembahan Mangkurat; 2. Ratu Mas Pambayun, menikah dengan Kiyai Ageng Lang; 3. Panembahan Prawata Ipertama; 4. Ratu Mas Mantingan, menikah dengan Pangeran Made Pandan; 5. Ratu Mas Kalinyamat; 6. Ratu Mas Hario di Surabaya; 7. Ratu Mas Katambang; 8. Ratu Mas Cepaka, menikah dengan Sultan Pajang Hadiwijaya; 9. Panembahan Mas di Madiun, dan 10. Ratu Sekarkedaton. Kanjeng Sultan Bintara III, mempunyai isteri / garwa, adalah * Garwa/isteri yang pertama no1 adalah putera Kiyai Ageng Malaka; * Garwa/isteri yang kedua no2 adalah putera Sunan Kalijaga. Nyi Mas Ratu Kalinyamat, bertapa tanpa busana hanya terselimutkan oleh rambut beliau di wukir Bonoraja, hal ini dilakukan karena suaminya dibunuh oleh Raden Hario Panangsang. Beliau berikrar "Ora pati bubar singku tapa yen ora keset rambute Hario Panangsang" / "Jika karena mati bertapa ini tidak disudahi kalau tidak keset rambutnya Hario Penangsang". Panembahan Prawata I, menurunkan 4empat putera puteri adalah 1. Raden Ayu Juru. 2. Panembahan Prawata II. 3. Raden Ayu Surajaya, dan 4. Panembahan Pruwita di Ngreden Delanggu. Cucu dari Kanjeng Sultan Bintara III. Panembahan Mas di Madiun, menurunkan 13tiga belas putera puteri adalah 1. Raden Ayu Semi, di Kalinyamat; 2. Raden Ayu Pengulu; 3. Pangeran Kanoman; 4. Raden Ayu Pasangi; 5. Raden Mas Lontang Hirawan, di Japan; 6. Raden Ayu Dumilah, menikah dengan Sinuhun Panembahan Senapati di Mataram, isteri ke 2dua; 7. Raden Mas Tangsang Hirawan, di Madiun; 8. Raden Mangkurat Wiryawan, di Madiun; 9. Raden Hario Sememi; 10. Raden Hario Sumantri; 11. Raden Ayu Pamegatan; 12. Panembahan Hawuryan, dan 13. Raden Hario Kanoman. Raden Mas Lontang Hirawan, menurukan 3tiga putera puteri, adalah 1. Panembahan Juminah IIkedua, di Madiun; 2. Raden Mas Julik, dan 3. Raden Hario Partoloyo, di Madiun. Panembahan Juminah IIkedua, menurunkan putera puteri, adalah * Raden Balitar, menurunkan Raden Tumenggung Balitar, menurunkan Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwana, Prameswari Pakubuwana Ipertama, menurunkan Sinuhun Prabu Mangkurat Jawa. RATNA PAMBAYUN PUTRIDALEM HINGKANG SINUHUN PRABU BRAWIJAYA V, PAMUNGKAS DI MAJAPAHIT. Menikah dengan Srimakurung Prabu Handayaningrat yang terakhir, berkedudukan di Pengging. Runtuhnya keadaan Kerajaan Pengging senasib dengan Kerajaan Majapahit dari penyerbuan Islam. Ratna Pambayun menurunkan 3tiga putera puteri, adalah 1. Kiyai Ageng Kebokanigara, tidak mempunyai keturunan; 2. Kiyai Ageng Kebokenanga, menurunkan Mas Karebet, dan 3. Raden Kebo Amiluhur, dewasa wafat. Mas Karebet pada waktu masih balita telah ditinggal wafat ayah, dan tak lama kemudian ibunya wafat. Sepeninggalan orang tuanya diasuh oleh Kiyai Ageng Tingkir, beliau adalah seperguruan dengan ayah Mas Karebet. Oleh karenya tempat tinggal berpindah dari Pengging ke Tingkir letaknya dekat kota Boyolali -Salatiga, dan kebetulan Kiayi Ageng Tingkir tidak mempunyai keturunan. Dalam riwayat Mas Karebet setelah dewasa mengabi ke Demak menjadi prajurit Tamtama, karena berparas tampan dan cerdik diambil menantu oleh Sang Prabu, dinikahkan dengan Ratu Mas Cepaka. Menurunkan 7tujuh putera puteri, adalah 1. Ratu Mas Pambayun, di Ngarisbaya; 2. Ratu Mas Kumelut, di Tuban; 3. Ratu Mas Adipati, di Surabaya; 4. Ratu Mas Banten, dinikahi Adipati Mondoroko, sebagai Patih dari Sinuhun Panembahan Senopati. 5. Ratu Mas Japara; 6. Adipati Benawa, nama gelar Sultan Hadiwijaya, di Pajang, dan 7. Pangeran Sindusena. Tahun 1458 Sultan Hadiwijaya, dinobatkan raja di Pajang, dan berkuasa selama 32tiga puluh dua tahun. Sultan Ngawantipura, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 3tiga tahun. Adipati Benawa Sultan Hadiwijaya, dinobatkan sebagai raja dan berkuasan selama 1satu tahun. Setelah wafat Kanjeng Sultan Hadiwijaya dan puteranya Adipati Benawa, dimakamkan di pasareyan Butuh, terletak di wilayah Kabupaten Sragen. Kanjeng Adipati Benawa menurunkan 3tiga putera puteri yaitu Pangeran Mas, menjabat sebagai Adipati di Pajang. Pangeran Kaputrah, di Pajang. Kanjeng Ratu Mas Hadi, sebagai prameswari Hingkang Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, di Mataram, menurunkan putra Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Mataram. Ratu Mas Banten, menikah dengan Adipati Mondoroko Ki Jurumartani, menjabat Patih Paduka Sinuhun Panembahan Senapati ing Ngalaga, di Mataram, menurunkan putera puteri 1. Adipati Jagabaya Banten, menurunkan putra a. Adipati Senabaya Banten, menurunkan putra b. Kanjeng Panembahan Bagus Banten, mwnurunkan putra c. Raden Ayu Tirtokusumo ing Pancuran, menurunkan putra d. Raden Ajeng Temu, menikah dengan Adipati Sindurejo, menjabat Patih dari Hingkang Sinuhun Paku Buwana III di Surakarta, menurunkan putra e. Kanjeng Bandara Raden Ayu Adipati Mangkunegoro II di Surakarta, menurunkan putra f. Raden Ayu Notokusumo Raden Ajeng Sayati menurunkan putra g. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro III. Ini adalah Trah Keturunan dari Adipati Mondoroko Ki Jurumartani. Adipati Mondoroko menurunkan putra Pangeran Hupasanta hing Batang, menikah dengan putri Adipati Benawa hing Pajang, menurunkan putra 1. Kanjeng Ratu Batang, sebagai Prameswari Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo, di Mataram. 2. Panembahan Mas, menjabat Adipati di Pajang putra dari Adipati Benawa, peputra Panembahan Radin, Panembahan Ramawijaya, dan Raden Ayu Purbaya III. 3. Kanjeng Ratu Kulon, sebagai prameswari dari Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Agung ing Mataram. 4. Pangeran Pujamenggala. 5. Pangeran Adipati Wiramenggala. Ini adalah putra dari Pangeran Mas Adipati hing Pajang. Pergantian Dinasti ke Putra Majapait RADEN BUNDANKAJAWAN / BONDAN KEJAWEN Asal keturunan Raja di Mataram sampai dengan Raja Surakarta. Kiyai Ageng Tarup II,mempeisteri widadari bernama Dewi Nawangwulan, menurunkan putra Dewi Nawangsih, kagarwa Raden Bunda Kajawan, putra Sinuhun Prabu Brawijaya V di Majapait. Kemudian memakai nama gelar Kiyai AGENG TARUP III, menurunkan 3tiga putra putri adalah 1. Raden Dukuh Kiyai Ageng Wonosobo, menjadi putra menanatu Sunan Maja Agung. 2. Raden Depok, Syeh Abduliah, demikian pula menjadi putra menantu Sunan Maja Agung 3. Rara Kasihan, menikah dengan Kiyai Ageng Ngerang I. 2. Raden Depok, kemudian memaki nama gelar Kiyai Ageng Getaspandawa. menurunkan putera 1. Bagus Sogam, setelah dewasa bernama Abdulrachman. Tempat kediaman di desa Selo, memakai nama gelar Kiyai Ageng Selo. Kiyai Ageng Selo menikah dengan 1. putrinya Kiyai Ageng Wonosobo, masih keponakan dari saudara. 2. putrinya Kiyai Ageng Ngerang, masih keponakan dari saudara. Putra dari isteri bernama Bagus Anis/Henis, wafat dimakamkan di Astana Lawiyan Sala. Garwanipun Kiyai Ageng Anis/Henis adalah putra dari Kiyai Ageng Wonosobo, menurunkan putra Bagus Kacung, nama gelar Kiyai Ageng Pemanahan, karena semula bertempat tinggal di desa Manahan Sala. Dan setelah putranya dinobatkan sebgai Raja Mataram, berganti nama gelar yaitu Kiyai Ageng Mataram. Beliau wafat dimakamkan di Astana Kota Gede, Yogyakarta. Isteri dari putranya Pangeran Made Pandan menurunkan putra Adipati Manduranegara. Hingkang Sinuhun Panembahan Senapati di Ngalaga. Pangeran Ronggo. Nyai Ageng Tumenggung Mayang. Pangeran Hario Tanduran. Nyai Ageng Tumenggung Jayaprana. Pangeran Teposono. Pangeran Mangkubumi. Pangeran Singasari. Raden Ayu Kajoran. Pangeran Gagak Baning, wafat dimakamkan berdampingan dengan Hingkang Sinuhun Panembahan Senapati di makam Astana Kota Gede. Pangeran Pronggoloyo. Nyai Ageng Haji Panusa, di Tanduran. Nyai Ageng Panjangjiwa. Nyai Ageng Banyak Potro, di Waning. Nyai Ageng Kusumoyudo Marisi. Nyai Ageng Wirobodro, di Pujang. Nyai Ageng Suwakul, wafat dimakamkan di Astana Lawiyan. Nyai Ageng Mohamat Pekik di Sumawana. Nyai Ageng Wiraprana di Ngasem. Nyai Ageng Hadiguno di Pelem. Nyai Ageng Suroyuda Kajama. Nyai Ageng Mursodo Silarong. Nyai Ageng Ronggo Kranggan. Nyai Ageng Kawangsih Kawangsen. Nyai Ageng Sitabaya Gambiro. Jenjang urutan dari Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya V di Majapait, menurunkan putera puteri adalah Raden Bundan Kajawan, peputra Raden Getas Pendawa, peputra Kiyai Ageng Selo, peputra Kiyai Agepg Anis/Henis, peputra Kiyai Ageng Pemanahan, peputra Hingkang Sinuhun Panembahan Senapati ing Ngalaga. HINGKANG SINUHUN PANEMBAHAN SENAPATI ING NGALAGA HINGKANG SINUHUN PANEMBAHAN SENAPATI ING NGALAGA Dinobatkan sebagai Raja Mataram pada tahun 1586. Belia wafat pada tahun 1601. Pernikahan 1pertam dengan putri dari Kiyai. Ageng Pati Panjawi. Pernikahan 2kedua dengan putra dari Adipati Mas hing Madiun. Putra putri beliau adalah 1. Gusti Kanjeng Ratu Pambayun Garwa Kiayi Ageng Mangir. Setelah berstatus janda menikah dengan Kiyai Ageng Karanglo. 2. Pangeran Ronggo, Raden Ronggo diriwayatkan bertarung dengan Uling Laut Selatan. Bibi dari Kalinyamat. 3. Pangeran Puger, menjabat sebagai Adipati di Demak. 4. Pangeran Teposono. 5. Pangeran Purbaya, diberikan sebutan Purbaya terbang. Bibi dari Giring. 6. Pangeran Rio Manggala. 7. Adipati Jayaraga di Ponorogo. 8. Hingkang Sinuhun Hadi Prabu Hanyakrawati. 9. Gusti Raden Ayu Demang tanpa Nangkail. 10. Gusti Raden Ayu Wiramantri, di Ponorogo. 11. Pangeran Pringgalaya. 12. Panembahan Juminah, putra dari isteri 13. Adipati Martalaya, di Madiun. 14. Pangeran Tanpa Nangkil Paduka Sinuhun Panembahan Senapati, raja Mataram wafat dimakamkan di Astana Kota Gede, demikan juga Pangeran Ronggo. KERAJAAN PINDAH DUMATENG MATARAM. IBU KOTA, PLERET. Pergantian Dinasti adalah Bondan Kejawan, putra Majapahit nomor 14. Paduka Sinuhun Panembahan Senapati, dinobatkan menjadi Raja pertama kali. Sekar Sinom "Nulata laku utama, tumraping wong Tanah Jawi. Priyagung hing Ngeksigondo, Panembahan Senapati. Kapati amarsudi, sudaning hawa lan napsu. Pinesu tapa brata, tanapi hing siyang ratri. Amemangun karyanak tyasing sasama." ASALSILSILAH PADUKA SINUHUN PRABU HADI HANYAKRAWATI di Mataram. Menurut Pancer dari garis Ibu Dinobatkan menjadi Raja tahun 1601, dan wafat pada tahun 1613 . Silsliah Sunan Maulana Mahribi, menurunkan putera Kiyai Ageng Ngerang I, menurunkan putera Kiyai Ageng Ngerang II, menurunkan putera Kiyai Ageng Ngerang III, menikah dengan Ratu Panengah, putra dari Sunan Kalijaga, menurunkan putera Kiyai Ageng Penjawi Pati, menurunkan putera Kanjeng Ratu Mas, menikah dengan Paduka Sinuhun Penembahan Senapati Ing Ngalaga, menurunkan putera Paduka Sinuhun Prabu HANYAKRAWATI di Mataram. Wafat dimakamkan di Astana Kota Gede, disebelah bawah makam ayahnda. Paduka Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, menikah yang pertama dengan Gusti Kanjeng Ratu MASHADI putri dari Adipati Benawa di Pajang. Menikah yang kedua dengan Ratu Lungayu di Ponorogo. Menurunkan putra putri sebanyak 12duabelas yaitu 1. Paduka Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma. 2. Pangeran Hario Mangkubumi. 3. Pangeran Bumidirja. 4. Pangeran Martapura. 5. Ratu Mas Sekar, garwa Pangeran Pekik Surabaya. 6. Ratu Mas Sekar, garwa Pangeran Ronggo hing Pati. 7. Pangeran Buminata. 8. Notopuro. 9. Pangeran Pamenang. 10. Pangeran Sularong. 11. Gusti Kanjeng Ratu Wirakusuma hing Jipang. 12. Pangeran Pringgoloyo. Paduka Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, mendapat gelar nama yaitu Sinuhun sedho Krapyak. berkenaan dengan peristiwa saat Paduka Sinuhun wafat pada saat berburu di hutan Krapyak. ASALSILAHIPUN PADUKA SINUHUN KANJENG SULTAN AGUNG PRABU HANYAKRAKUSUMA Dari garis pancer Ibu Dinobatkan menjadi Raja pada tahun 1613. Beliau wafat pada tahun 1645. Wafat dimakamkan di Pesarean Astana Pajimatan Imogiri, Ngayugyakarta; yang pertama-kali. Isteri beliau masih saudara keponakan putri dari Pangeran Hupasanta di Batang, bernama Kanjeng Ratu Kulon utawi Kanjeng Ratu Batang. a. Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Hadiwijaya Jaka Tingkir di Butuh Sragen, menurunkan putera b. Pangeran Adipati Benawa hing Pajang, menurunkan putera c. Gusti Kanjeng Ratu Mas Hadi, sebagai prameswari Paduka Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, menurunkan putera d. Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma hing Mataram. menurunkan putera putri sebanyak 8delapan adalah 1. Pangeran Demang Tanpa Nangkil. 2. Pangeran Ronggo Kajiwan. 3. Gusti Ratu Ayu Winongan. 4. Pangeran Ngabehi Loring Pasar. 5. Pangeran Purubaya. 6. Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Hamangkurat Agung, di Mataram. 7. Gusti Raden Ayu Wiromantri. 8. Pangeran Danupaya. Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indoneisa, pada tahun 1980, dengan Piagam yang ditandatangani Presiden Soeharto. Yen Sinuhun ing Mataram Sultan Agung tan kena tiniru yekti. Sebab iku Wali Ratu. Mujijate wus dadiyo pratanda. Wali miwah jumeneng Ratu. Pindha Kang Maha Suci, hangejawantah dadi Sang Prabu. Lir Njeng Rasullolah nguni, wus kaliyang nunggal. Mula mintaha Barkah kemawon. H1NGKANG SINUHUN PRABU HAMANGKURAT AGUNG, HING MATARAM, SAKING HINGKANG IBU Dinobatkan menjadi Raja pada tahun 1645. Wafat pada tahun 1677. Prameswari Paduka Hamangkurat Agung yang Pertama, adalah putri dari Pangeran Pekik, di Surabaya. Prameswari Paduka Hamangkurat Agung yang Kedua, adalah putri dari Panembahan Radin. Kiyai Ageng Dukuh di Wonosobo, menurunkan putra Pangeran Made Pandan, menurunkan putra Adipati Mondoroko, nama gelar Ki Jurumartani, menurunkan putra Pangeran Huposonto di Batang, menurunkan putra Kanjeng Ratu Kulon, menikah dengan Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma. Disebut juga dengan nama gelar Kanjeng Ratu Batang, menurunkan putra Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Harnangkurat Agung, di Mataram, Putra putri beliau seluruhnya adalah 1. Paduka Sinuhun Hamangkurat Mas Amral, dilahirkan dari Isteri Pertama Kanjeng Ratu Kulon, adalah putri dari Pangeran Pekik, di Surabaya. 2. Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana Ipertama atau Pangeran Puger, dilahirkan dari isteri kedua Kanjeng Ratu Wetan, adalah putri dari Panembahan Radin, 3. Gusti Raden Ayu Pamot. 4. Pangeran Martosana. 5. Pangeran Singasari. 6. Pangeran Silarong. 7. Pangeran Notoprojo. 8. Pangeran Ronggo Satoto. 9. Pangeran Hario Panular. 10. Gusti Raden Ayu Adip Sindurejo, menikah dengan Patih Sindurejo di Kartasura. 11. Gusti Raden Ayu Kletingkuning, garwanipun Raden Trunajaya, Hingkang ngraman. 1674 - 1680 12. Gusti Raden Ayu Mangkuyudo. 13. Gusti Raden Ayu Adipati Mangkupraja. 14. Pangeran Hario Mataram. 15. Bandara Raden Ayu Danureja. 16. Gusti Raden Ayu Wiromenggolo. Paduka Sinuhun Susuhunan Prabu Hamangkurat Agung, wafat dimakamkan di Tegal Arum. Dusun Jelak Kota Tegal. ASALSILAHIPUN PADUKA SINUHUN KANJENG SUSUHUNAN PAKU BUWANA I DI KARTASURA Garis Pancer dari Trah/Keturunan Ibu. Dinobatkan menjadi Raja pada thaun 1704. Wafat pada tahaun 1719. Paduka yang dinobatkan sebagai Raja yang pertama kali di Kartasura, Paduka inuhun Kanjeng Susuhunan Hamangkurat Amral. Kemudian tapuk kerajaan digantikan oleh putranya Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Hamangkurat Kencet. Kemudian digantikan oleh paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I Puger. Adik Paduka Sinuhun Hamangkurat Amral, mempersunting Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwana, putrinipun Tumenggung Balitar. a. Kanjeng Gusti Adipati Benawa di Pajang, menurunkan putra b. Panembahan Radin, menurunkan putra c. Kanjeng Ratu Wetan, Prameswari dari Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Agung, menurunkan putra d. Paduka Sinuhun Paku Buwana I, di Kartasura; menurunkan putra putri 1. Gusti Raden Ayu Lembah. 2. Pangeran Ngabehi. 3. Paduka Sinuhun Hamangkurat Jawa, 4. Gusti Raden Ayu Mangkubumi. 5. Pangeran Herucakra Hing Madiun. 6. Pangeran Hario Prangwadono. 7. Pangeran Ngalaga. 8. Pangeran Pamot. 9. Adipati Sindurejo. 10. Pangeran Purubaya, di Lamongan, saking garwa. 11. Pangeran Balitar. 12. Kanjeng Ratu Ajunan, menikah dengan Pangeran Tjakraningrat di Madura. PAMBRONTAKAN RADEN TRUNAJAYA Semasa keuasaan pemerintahan Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Hamangkurat Agung di Kerajaan Mataram, terjadi peristiwa pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Trunajaya. Dalam peristiwa ini Paduka Sinuhun terdesak namun dapat meloloskan diri dari Karaton, dan mengungsi sampai di Tegal. Setelah beberapa waktu lamanya di Tegal, memerintahkan kepada putranya Pangeran Puger, agar menyirnakan Raden Trunajaya. Kehendak Sinuhun dapat terwujut dengan terbunuhnya Raden Trunojoyo di Ardi Ngantang Jawa Timur. Setelah Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Agung wafat dimakamkan di Tegal Arum, sebuah desa dekat dengan kota Tegal. Sedangkan keadaan Karaton Mataram rusak, kemudian Gusti Pangeran Puger mendirikan bangunan keraton di Kartasura, yang kemudian diberikan kepada kakak Hamangkurat Mas Amral. KRATON PINDAH DATENG KARTASURA. Yang dinobatkan Raja pertama kali adalah, Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Mas Amral. Kemudian Raja kedua adalah, Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Kencet . Selanjutnya Paduka Sinuhun Paku Buwana I Puger. Terhitunh masih saudara muda dengan Hamangkurat Mas. PADUKA SINUHUN KANJENG SUSUHUNAN PRABU HAMANGKURAT MAS AMRAL Dinobatkan Raja di Karaton Kartasura Menurunkan putra putri adalah 1. Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Kencet. 2. Pangeran Lembah. 3. Pangeran Teposono. 4. Raden Mas Garandi, Sunan Kuning, dilarkan dari isteri selir keturunan Cina. 5. Gusti Raden Ayu Dandun Matengsari. Paduka Sinuhun tidak menurunakan Raja. Wafat dimakamkan di Astana Pajimatan Imogiri. ASALSILAHIPUN PADUKA SINUHUN KANJENG SUSUHUNAN HAMANGKURAT JAWA, HING KARTASURA Garis Pancer dari Trah/Keturunan Ibu. Dinobatkan menjadi Raja pada tahun 1719. Wafat pada tahun 1727. Menikah dengan Kanjeng Ratu Kencana, putrinipun Ki Tumenggung Tirtakusuma. a. Kanjeng Sultan Demak Bintara III, menurunkan putra b. Kanjeng Panembahan Mas, di Madiun, menurunkan putra c. Gusti Kanjeng Ratu Retnodumilah, menikah dengan Paduka Sinuhun Panembahan Senapati di Ngalaga, menurunkan putra d. Panembahan Juminah Hing Madiun, menurunkan putra e. Pangeran Adipati Balitar, menurunkan putra f. Ki Tumenggung Balitar, menurunkan putra g. Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwana I, di Kartasura menurunkan putra h. Paduka Sinuhun Hamangkurat Jawa di Kartasura. Putra Putri dalem 1. Kanjeng Pangeran Hario Mangkunegoro, di Kartasura. 2. Gusti Raden Ayu Suroloyo, di Brebes. 3. Gusti Raden Ayu Wiradigda. 4. Gusti Pangeran Hario Hangabehi. 5. Gusti Pangeran Hario Pamot. 6. Gusti Pangeran Hario Diponegoro. 7. Gusti Pangeran Hario Danupaya. 8. Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II 9. Gusti Pangeran Hario Hadinagoro. 10. Gusti Kanjeng Ratu Maduretno, garwa Pangeran Hindranata. 11. Gusti Raden Ajeng Kacihing, dewasa sedho. 12. Gusti Pangeran Hario Hadiwijaya, sedho Kali Abu. 13. Gusti Raden Mas Subronto, wafat dalam usia dewasa. 14. Gusti Pangeran Hario Buminoto. 15. Gusti Pangeran Hario Mangkubumi, Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana I. 16. Sultan Dandunmatengsari, melakukan pemberontakan dan tidak berhasil. 17. Gusti Raden Ayu Megatsari. 18. Gusti Raden Ayu Purubaya. 19. Gusti Raden Ayu Pakuningrat. di Sampang 20. Gusti pangeran Hario Cokronegoro. 21. Gusti Pangeran Hario Silarong. 22. Gusti Pangeran Hario Prangwadono. 23. Gusti Raden Ayu Suryawinata. di Demak. 24. Gusti Pangeran Hario Panular. 25. Gusti Pangeran Hario Mangkukusumo. 26. Gusti Raden Mas Jaka, wafat usia muda 27. Gusti Raden Ayu Sujonopuro. 28. Gusti Pangeran Hario Dipawinoto. 29. Gusti Raden Ayu Adipati Danureja I. Urutan putera pertama 1 Kanjeng Pangeran Hario Mangkunegoro Kartasura, menurukan putra Raden Mas Sahit, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegara I Surakarta. Urutan putera kedelapan 8, Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buawan II. Urutan putera keduabelas12 Gusti Pangeran Hario Hadiwijaya, wafat Kali Abu, menurunkan putra Pangeran Kusumodiningrat, menurunkan putra Pangeran Hadiwijaya, mantudalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro II, angsal Sakeli, peputra Pangeran Hadiwajaya, menikah dengan Gusti Kanjeng Ratu Bendara. Adalah putra dari Paduka Sinuhun Paku Buwana VIII. Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwana IX, peputra Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan X. Urutan putera kelimabelas 15 Gusti Pangeran Hario Mangkubumi, Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana di Yogyakarta. ASALSILAHIPUN HINGKANG SINUHUN KANJENG SUSUHUNAN PAKU BUWANA II, HING KARTASURA Garis Pancer dari Trah/Keturunan Ibu. Dinobatkan menjadi Raja pada tahun 1727. Wafat pada tahun 1749. Pindah dan mendiami Keraton Surakarta, hari Rebo Paing, Februari Th. 1745 Menikah dengan Gusti Kanjeng Ratu Mas. a. Kalifah Husen, putranipun Syeh Madi, kamantu Hario Baribin hing Madura, peputra b. Sunan Nguduipg Wall Prajurit agul-agul nlgari Dernak,peputra c. Panembahan Kali hing Poncowati Demak, asma Panembahan Kudus,. peputra ... d. Pangeran Demang, peputra e. Pangeran Rajungan, peputra f. Pangeran Kudus, peputra ^ g. Adipati Sumodipuro hing Pati, peputra h. Raden Adipati Tirtokusumo, peputra i. Gusti Kanjeng Ratu Kencana, Prameswaridalem Hingkang Sinuhun Hamangkurat Jawa hing Kartasura, peputra j. Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Putra putri dalem 1. Gusti Kanjeng Ratu Timur, garwanipun Pangeran Pakuningrat., 2. Gusti Pangeran Hario Priyombodo, dewasa sedho. 3. Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan III. 4. Gusti Raden Ayu Puspokusumo. 5. Gusti Raden Ayu Puspodiningrat. 6. Gusti Raden Ayu Kaliwungu. 7. Gusti Raden Ayu Mangkupraja hing Demak. 8. Gusti Raden Ayu Pringgodiningrat. 9. Gusti Pangeran Hario Puruboyo. 10. Gusti Pangern Hario Balitar. 11. Gusti Pangern Hario Danupaya. 12. Gusti Raden Ayu Jungut. bhs jawa Pada waktu Pemerintahan Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, terjadi pembrontakan Cina, yang dipimpin Sunan Kuning Raden Mas Garandi adalah putradalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Hamangkurat Mas, dari isteri selir/garwa ampil keturunan Cina. Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan melarikan diri mengungsi sampi di Ponorogo. Dan stelah Sunan Kuning dapat taklukan, Paduka Sinuhun kemudian memerintahakan meneliti keadaan Kraton, karena bangunan banguna di Kartosura kondisinya sudah hancur. Banyak tempat / Bangunan yang diberi tiang penyanggah, dengan maksud agar bangunan tersebut pagar, tembok rumah, pendapa tidak mengalami keruntuhan. Kemudian mememrintahkan punggawa Karaton Kartosuro yaitu Ki Tumenggung Harung Binang I memeriksa keadaan Kraton. Dalam riwayat pemilihan lokasi Karatob baru adalah di Dusun Sala, sebelah timur Kartasura untuk dilaksanakan Pembangunan baru Kedaton/Karaton. Setelah jadi bangunan Kararton Sala, Paduka Sinuhun melaksanakan boyongnan pindah dengan arak-arakan secara besar besaran, Paduka Sinuhun naik Kreta Kencana Kiyai Garuda. Rebo Paing Februari tahun 1745. Ki Tumenggung Harung Binang I, diwisuda menjadi Bupati Kebumen, nama gelar Adipati Honggowongso. Pindah ke Surakarta tahun 1745. Putradalem Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Hamangkurat Jawa, Gusti Pangeran Mangkubumi nama saat usia muda Bandoro Raden Mas Sujono. Putra dari isteri selir / garwa ampeyan bernama Mas Ayu Tejawati. Setelah Rakakakak Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan wafat, terjadi pemberontakan mbalelo Gusti Pangeran Mangkubumi. Dalam kisah terjadi hukuman pemenggalan kepala terhadap Pahlawan Surakarta adalah Ki Ngabehi Djoyokartiko Delu Penewu Keparak Gedong Tengen. PERJANJIAN GIYANTI WONTEN TAHUN 1735. Dalam pemerintahan Paduka Nata hing Surakarta Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana III. Kanjeng Pangeran Mangkubumi dinobatkan di Karaton Yogyakarta, dengan nama gelar Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana I, Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sebelum terbentuknya Sinjai, wilayah tersebut terdiri dari beberapa kerajaan kecil yang tergabung kedalam beberapa konfederasi atau persekutuan, diantaranya persekutuan Tellu limpoe yang terdiri dari kerajaan-kerajaan dekat pesisir pantai, yakni Kerajaan Tondong, Bulo-bulo dan ada persekutuan Pitu Limpoe yang terdiri dari kerajaan-kerajaan di daratan tinggi, yakni Kerajaan Turungen, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka. Di anatar kedua persekutuan itu, hanya Tellu Limpoe lah yang memiliki pengaruh kerajaan-kerajaan tersebut tergabung ke dalam persekutuan, namun pelaksanana roda pemerintahan tetap berjalan pada wilayahnya dari mana asal-usul nama Sinjai itu muncul? Untuk menjawab peryanyaan itu, terdapat beberapa versi kisah yang menceritakan sejarah kemunculan dan penamaan juga Dari Mana Asal-usul Nama Bulukumba?Versi yang pertama mengatakan bahwa nama Sinjai berasal dari kata sijai dalam bahasa Bugis yang berarti disatukan oleh jahitan, maksudnya adalah hubungan kekerabatan antara kerajaan-kerajaan di wilayah itu sangat erat bagaikan disatukan oleh ini diperjelas dengan adanya gagasan dari La Massiajeng, Raja Lamatti ke-10 untuk memperkokoh persaudaraan antara kerajaan Bulo-Bulo dan Lamatti dengan ungkapannya āpasijai singkerunna Lamatti na Bulo-Buloā artinya satukan keyakinan Lamatti dengan Bulo-Bulo, setelah La Massiajeng wafat, ia digelari dengan nama Matinroe sejarawan Universitas Hasanuddin, Prof Dr Mattulada, secara etimologis Sinjai berasal dari kata sanjai dalam bahasa Makassar yang berarti sama banyaknya. Tradisi lisan atau yang sudah tercatat dalam lontara, menceritakan pada pertengahan abad XVI, ketika raja Gowa ke-10, Tunipallangga Ulaweng 1546-1565 berlayar kembali ke Gowa setelah berperang melawan kapalnya berlayar di sekitar Pantai Mangarabombang, raja Gowa menengok ke daratan dan bertanya, āapakanne rate? Kere jai ballaāna ri Maccini Sombala?ā Negeri apakah di daratan itu? Mana lebih banyak rumah dibandingkan dengan Maccini Sombala? Perwira yang mengawal raja Gowa menjawab, āSanjai, sombangkuā sama banyaknya tuanku, raja Gowa kemudian mengulang kata itu āSanjai.āBaca juga Dari Berru Hingga ke Barru, Inilah Sejarah Penamaan BarruSemua pasukan dalam kapal mendengar dan kemudian memahami negeri di daratan yang ditanyakan raja Gowa dengan nama Sanjai terletak di Tondong dan Bulo-Bulo. Kemudian dalam mengucapkan dan penanaman selanjutnya berubah meniadi Sinjai. Sampai kini di sekitar Mangarabombang, masih tetap ada satu desa yang bernama desa di Blangnipa, Sinjai pada tahun 1898. Foto Abbas Daming/PECINTA SEJARAH SULAWESI SELATAN FANS OF SOUTH SULAWESI HISTORY ā yang sedikit berbeda diutarakan oleh Dr Edward L Poelinggomang, dosen sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, mengatakan, Sinjai dahulu bernama Baemoente. Perubahan nama terjadi ketika raja Gowa Tunipallangga Ulaweng dalam pelayaran ekspedi menaklukkan daerah pesisir timur jazirah selatan Pulau Sulawesi dan mendarat di Bulo-Bulo untuk mengamati dan menguasai negeri Gowa takjub melihat kesejahteraan dan kepadatan penduduk negeri ini. Raja Gowa kemudian berpesan kepada raja Bulo-Bulo, āengkau boleh menamakan negerimu ini dengan nama Sanjai, karena negerimu ini dihuni sama baiknya di negeri Gowa.āM. Arifin Muhammadiyah salah seorang penyumbang makalah dalam seminar penelusuran hari jadi Sinjai, yang berlangsung di Sinjai pada 2-3 Februari 1994, ia mengatakan penamaan Sinjai bermula ketika Raja Gowa Tunipallangga Ulaweng mengunjungi persekutuan Tellu Limpoe, raja Gowa menanyakan jumlah kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Tellu juga Sejarah Asal Mula Kemunculan Nama dan Kota MakassarRaja yang tergabung dalam Tellu Limpoe kemudian menjawab sembilan kerajaan. Raja Gowa lalu membalas dengan mengatakan āsanjai Gowaā sama banyaknya di Gowa, dan dari percakapan itulah kemudian nama Sanjai mulai dikenal dan melekat pada negeri-negeri di Tellu Limpoe sarnpai hari salah seorang pemerhati sejarah lokal Sinjai yang juga menyumbangkan makalahnya pada seminar penelusuran hari jadi Sinjai, ia mengatakan penamaan Sinjai tidak terlepas dalam konsep To Manurung yang merupakan cikal bakal pemimpin pertama di wilayah pertama memerintah di Sinjai berasl dari Manurungnge ri Tanralili yang tidak diketahui dari mana asal-usulnya dan diberi nama gelar Tippange Tana. Tippange Tana tidak menetap dalam suatu daerah sehingga masyarkat Bugis menamakannya āsajaāmiā atau āsajaāi.āDalam bahasa Bugis, saja bearti lenyap dari pandangan kemudian muncul di tempat lain. Dari kata sajaāi ini kemudian berubah menjadi Sanjai dan juga Konsep Kepemimpinan To Manurung Pada Masyarakat Sulawesi SelatanPenggunaan nama Sinjai yang meliputi beberapa kerajaan lokal selama rentang abad XVII sampai abad XX memberi indikasi nama tersebut entah secara mitos maupun dengan fakta sejarah cukup jelas sejarah lokal mencatat sembilan kerajaan yang tercakup dalam negeri Sinjai. Tetapi dalam kenyataan hanya tiga kerajaan berpengaruh dan dikenal cukup luas, yaitu Tondong, Bulo-Bulo dan pada masa kolonial Belanda, wilayah Tellu Limpoe ini digabung menjadi satu wilayah pemerintahan dengan sebutan Goster Districten pada tahun 1861. Tanggal 24 Gebruari 1940, Gubernur Grote Gost menetapkan pembangian administratif untuk daerah timur termasuk residensi Celebes, dimana Sinjai berstatus sebagai Onderafdeling masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan dan namanya ditatah sesuai dengaan kebutuhan Bala Tentara Jepang yang bermarkas di kemerdekaan Indonesia, tanggal 20 Oktober 1959, Sinjai resmi menjadi sebuah kabupaten berdasarkan Undang-Undang No. 29 Tahun 1959. Dan pada tanggal 17 Pebruari 1960 Abdul Latief dilantik menjadi Kepala Daerah Tingkat II Sinjai yang Pertama.
silsilah keturunan raja sinjai