NGANJUK Masjid Al-Mubarok di Desa Kacangan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk merupakans salah satu masjid yang istimewa di Jawa "Saat kedatangan Mbah Kanjeng Jimat, akhirnya ditukargulingkan dan dibangun yang lebih besar di sini (lokasi Masjid Al-Mubarok saat ini), dan lebih bagus," ujar Hendro Prayitno, saat Silsilahkeluarga Anies Baswedan, garis keturunan, genealogy, kerabat, saudara, hubungan keluarga dari Anies Baswedan H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D., adalah seorang akademisi pendidikan dan juga politikus Indonesia yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017 hingga 2022.[1] Anies Baswedan adalah cucu Awalanyabegini, suatu ketika saya menunjukkan nasab seseorang yang bersambung pada Sunan Cendana. Iapun merasa keberatan melihat catatan silsilah itu menunjukkan bahwa pemiliknya adalah keturunan ke-35 dari Rasulullah SAW. Sementara dia sendiri (si ahli nasab) yang lebih tua dari pemilik silsilah itu adalah keturunan ke-40. KanjengJimat Complex. The historic mosque situated in Berbek District approximately 8 km to the south of Nganjuk Town. Was founded in 1745 by KRT Sosro Koesoemo or Kanjeng Jimat, The first Regent Berbek. Some historic ornaments include: pulpit carved from teak wood made in 1758, the drum in 1759, the fibers roof mosque in 1760 that eventually GarisSilsilah dan Keturunan Sunan Ampel (Raden Rahmat) Ditulis oleh Muhammad Imron Rabu, 23 Mei 2018 Tambah Komentar. Sunan Ampel adalah salah seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Ia lahir 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Vay Tiền Nhanh Ggads. Sejarah Nganjuk Berbek,Cikal Bakal Kabupaten Nganjuk anjeng Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo I Dalam uraian berikut ini lebih banyak menjelaskan tentang 3. Baca Akte Komisaris Daerah-daerah Keraton yang telah diambil alih oleh Residensi Kediri, yang ditandatangani di Semarang oleh Van Lawick Van Pabst. Dalam akte kolektif ini juga ditetapkan personalia pejabat-pejabat Kabupaten yang lain, seperti Patih, Mantrie, Jaksa, Mantri Wedono / Kepala Distrik, mantri Res dan Penghoeloe. Perjalanan sejarah keberadaan Kabupaten Berbek “cikal bakal” Kabupaten Nganjuka sekarang ini. Dikatakan “cikal bakal” karena ternyata kemudian bahwa alur Sejarah Kabupaten Nganjuk adalah berangkat dari keberadaan KabupatenBerbek dibawah kepemimpinnan Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo 1. Kapan tepatnya daerah Berbek mulai menjadi suatu daerah yang berstatus kabupaten, kiranya masih sulit diungkapkan. Namun dari silsilah keluarga dan catatan”Peninggalan Kepurbakalaan Kabupaten Nganjuk” tulisan Drs. Subandi, dapat diketahui bahwa bupati Berbek yang pertama adalah KRT. Sosrokoesoemo 1 terkenal dangan sebutan Kanjeng Jimat. Pada masa pemerintahanya dapat diselesaikan sebuah bangunan masjid yang bercorak hinduistis yang bernama masjid yoni Al Mubaarok. Terdapat sinengkalan huruf arab berbahasa jawa yang berbunyi Bagian depan Ratu Pandito Tata Terus 1759 Bagian Bawah Ratu Nitih Buto Murti1758 Kanan/kiri Ratu Pandito Tata Terus 1759 Belakang Ratu Pandito Tata Terus 1759 Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrodirdjo Setelah KRT Sosrokoesoemo meninggal dunia tahun 1760 Leno Sarosa Pandito Iku, sebagai penggantinya adalah Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrodirdjo. Mendekati tahun 1811, Kabupaen Berbek pecah menjadi 2dua, yaitu Kabupaten Berbek dan Kabupaten Godean. Sebagai bupati Godean adalah Raden Mas Toemenggoeng Sosronegoro II. Kanjeng Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo II Dalam perkembangan selanjutnya, sebagai tindak lanjut adalah perjanjian sepreh tahun 1830, yaitu adanya rencana penataan kembali daerah-daerah dibawah pengawasan dan kekuasaan Nederlandsch Gouverment,dengan SK 31 agustus 1830, ditetapkan bahwa Kabupaten Godean dinyatakan dicabut dan selanjutnya digabung dangan Kabupaten Berbek yang terdekat. Dengan akte Komisaris daerah-daerah Keraton yang telah diambil alih dan ditandatangani oleh Van Lawick Van Pabst tanggal 16 juni 1831 di Semarang, ditunjuk sebagai bupati Berbek adalah Kanjeng Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo II. Dari akte tersebut dapat diketahui bahwa Godean telah berubah statusnya menjadi Distri Godean, yang bersama-sama dengan distrik Siwalan dan distrik Berbek menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Berbek. Raden Ngabehi Pringgodikdo KRT Sosrokoesoemo II1830-1852meninggal dunia tanggal 27 agustus 1852 karena menderita sakit ditunjuk sebagai penggantinya adalah Raden Ngabehi Pringgodikdo, patih dari luar Kabupaten Ngrowo, yang bukan termasuk garis keturunan / keluarga dari II. Pilihan jatuh pada Pringodikdo ini karena putra-putra dari II Bupati yang telah meninggal dianggap kurang mampu unuk menduduki jabatan bupati tersebut Sedangkan Pringgodikdo dinilai lebih cakap dan berbudi pekerti yang baik, selain itu mempunyai pengalaman yang cukup daripada calon-calon lain yang diusulkan, sehingga dianggap mampu dan pantas untuk menggantikan KRT. Sosrokoesoemo II almarhum. Pengangkatan Pringgodikdo sebagai bupati yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur Jendral Nederlandsch India di Batavia, tanggal 25 November 1852. selanjutnya, apabila disimak dari isi surat residen Kedirie yang pertama, tanggal 20 September 1852 tetang pertimbangan-pertimbangan terhadap Pringgodikdo untuk diangkat menjadi Bupati Berbek adalah sebagai berikut “Kabupaten Berbek penting sekali, juga sangat luas, yang meliuti delapan distrik diwilayahnya, dan berbatasan dangan residen Madiun, Soerabaja, rembang, sehingga Policie disana seharusnya waspada…” Menurut “Akte Komisaris daerah-daerah Kraton yang telah diambil alih “tanggal 16 Juni1831, bahwa dikabupaten Berbek terdapat 3tiga distrik, Kabupaten Nganjuk ada 2dua distrik dan Kabupaten Kertosono ada 3tiga distrik, sehingga jumlah keseluruhan ada 8delapan distrik, sama dengan yang disebutkan dalam SK di atas. Hal ini berarti sebelum II meninggal, telah terjadi suatu proses penghapusan Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kertosono yang meliputi distrik-distrik Berbek, Goden, Siwalan asli dari Kabupaten Berbek, Ngandjoek, Gemenggeng berasal dari Kabupaten Ngandjoek, Kertosono, Waroe Djajeng, Lengkong berasal dari Kabupaten Ketosono. Raden Ngabehi Soemowilojo Raden Ngabehi Pringgodikdo menjabat sebagai bupati Berbek lebih kurang 14 tahun, yaitu sampai dengan tahun 1866. setelah mangkat digantikan oleh Raden Ngabehi Soemowilojo, patih pada kadipaten Blitar dengan SK Gubernur Jendral Nederlandsch Indie tanggal 3 September 1866 No. 10. selanjutnya dengan SK Gubernur Jendral Nederlandsch Indie tanggal 21 oktober 1866 dia diberi gelar toemenggoeng dan diijimkan manamakan diri Raden Ngabehi Soemowilojo. Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo III Raden Ngabehi Soemowilojo meninggal dunia tanggal 22 februari 1878. Untuk menduduki jabatan Bupati Berbek yang kosong tersebut telah diangkat Raden Mas Sosrokoesoemo III, Wedono dari Nederlandsch Indie tanggal 10 april 1878 menjadi Bupati Berbek. Bersama dengan itu diberikan totle jabatan Toemenggoeng dan diijinkan menuliskan namanya Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo. Pada masa pemerintahan Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo III inilah terjadi suatu peristiwa yang amat penting bagi perjalanan sejarah pemerintahan di Nganjuk hingga sekarang ini. Peristiwa tersebut adalah adanya kepindahan tempat pusat pemerintahan dari kota Berbek menuju kota Nganjuk. Mengenai hal boyongan ini akan diuraikan nanti. Raden Mas Toemenggoeng Sosro Hadikoesoemo Pada tanggal 28 September 1900, RM. Adipati Sosrokoesoemo III karena menderita sakit yang terus menerus sehingga terpaksa memberanikan diri mengajukan permohonan kepada Gubernur Jendral Nederlansch Indie untuk diberhentikan dengan hormat dari jabatan Negara dengan diberikan hak pensiun. Dan selanjutnya, memohon agar karirnya putra laki-laki tertuanya Raden Mas Sosro Hadikoesoemo menggantikan jabatan sebagai Regent Bupati Berbek. Berdasarkan Besluit Gubernur Jendral nederlansch Indie tanggal 2 Maret 1901 No 10, Pemerintahan Hindia Belanda memberhentiakan Adipati Sosrokoesoemo dan selanjutnya mengangkat redden Mas Sosro Hadikoesoemo sebagai Regent Bupati Berbek dan memberinya gelar Toemenggoeng dan mengijinkan menamakan dan menuliskanRaden MAs Toemenggoeng Sosro Hadi Koesoemo. Satu hal penting yang perlu dipehatikan pada masa jabatan RMT. Sosro Hadi Koesoemo ini adalah mulai digunakan sebutan Regentschap Kabupaten Nganjuk, yang pada waktu-waktu sebelumnya masih di sebut Afdelling Berbek Kabupaten Berbek. Tentang hal ini dapat dilihat pada Regeering Almanak 1852-19420. Arti Lambang Kabupaten Nganjuk Inilah gambar lambang Kabupaten Nganjuk Logo Kabupaten Nganjuk Lambang Daerah terdiri atas 4 bagian, yaitu Dasar Lambang Bagian atas, berisi gambar bintang bersudut 5 Bagian tengah dan samping berisi gambar-gambar sebagai berikut * Pita bertuliskan BASWARA YUDHIA KARANA * Rantai berbentuk lingkaran * Gunung dan air terjun * Sawah dan sungai * Padi dan kapas * Pohon beringin dalam segilima beraturan * Sayap Bagian bawah berisi Pita bertuliskan angka JAWA Pita bertuliskan NGANJUK Makna Gambar dalam Lambang Kabupaten Nganjuk Perisai bersudut lima berdasar biru dan bertepi putih melambangkan jiwa kerakyatan, kesetiaan dan kesucian masyarakat Nganjukyang selalu siaga dalam menghadapi segala tantangan. Bintang bersudut lima berwarna emas melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa, cita-cita luhur dan suci sebagai pedoman perjuangan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat adil dan makmur. BASWARA YUDHIA KARANA artinya cemerlang karena perjuangan. Rantai berbentuk lingkaran melambangkan kebulatan tekad rakyat Nganjuk, yang dilandasi semangat perjuangan dan persatuan. Tiga puncak gunung berwarna hitam memiliki arti filosofis Tri Dharma Amerta dan secara historis menunjukkan Jaman Kejayaan Nasional, Jaman Penjajahan dan Jaman Kemerdekaan. Gunung, malambangkan sumber kekayaan alam air terjun sedudo adalah air suci pemberian Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan rahmat untuk dinikmati oleh umat-Nya. Sawah mengandung makna kemakmuran, dan sungai juga bermakna kemakmuran dan kesuburan. Gunung berpuncak tiga, sawah dan sungai digambarkan dalam rantai yang berbentuk lingkaran, itu mempunyai makna Dengan tekad yang bulat dan kekayaan alam yang melimpah memberikan keyakinan kepada masyarakat Nganjuk untuk berjuang mewujudkan tercapainya masyarakat adil dan makmur. Padi dan kapas melambangkan pangan dan sandang yang menjadi kebutuhan pokok rakyat sehari-hari. Jumlah padi 17 butir, kapas 8 buah, daun padi 4 helai, daun kapas 5 helai mencerminkan semangat dan jiwa proklamasi 17-8-45. Pohon beringin berdaun lima kelompok dalam segi lima beraturan bermakna pengayoman, perlindungan dan perdamaian, serta juga menggambarkan adanya lima wilayah kerja pembantu bupati. Sayap dengan 20 helai bulu berwarna emas melambangkan wilayah daerah terdiri dari 20 kecamatan. Pita bertuliska angka Jawa yang mengikat dua pangkal sayap mewujudkan angka 937 M, yang merupakan ditetapkannya tahun hari jadi Nganjuk. Secara keseluruhan, lambang daerah ini mengandung makna sebagai berikut Dengan semangat dan jiwa proklamasi 17-8-45 rakyat Nganjuk yang telah tumbuh dan berkembang sejak tahun 937 M, bersama Pemerintah Daerah yang berwibawa bertekad bulat untuk berjuang terus dengan segala potensi daerahnya, sehingga tercapai cita-cita luhur, masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Daftar Nama kecamatan di Kabupaten Nganjuk 1. Kecamatan Bagor 2. Kecamatan Baron 3. Kecamatan Berbek 4. Kecamatan Gondang 5. Kecamatan Jatikalen 6. Kecamatan Kertosono 7. Kecamatan Lengkong 8. Kecamatan Loceret 9. Kecamatan Nganjuk 10. Kecamatan Ngetos 11. Kecamatan Ngluyu 12. Kecamatan Ngronggot 13. Kecamatan Pace 14. Kecamatan Patianrowo 15. Kecamatan Prambon 16. Kecamatan Rejoso 17. Kecamatan Sawahan 18. Kecamatan Sukomoro 19. Kecamatan Tanjunganom 20. Kecamatan Wilangan Dari Kecamatan diatas dibagi menjadi 4 kawasan yaitu 1. Kawasan Utara Anjuk Ladang 2. Eks Kadipaten Berbek & Godean 3. Daerah Kertosono Tengah Waroedjajeng SILSILAH KETURUNAN SUNAN BONANGSilsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi MuhammadSunan Bonang Makdum Ibrahim binSunan Ampel Raden Rahmat Sayyid Ahmad Rahmatillah binMaulana Malik Ibrahim binSyekh Jumadil Qubro Jamaluddin Akbar Khan binAhmad Jalaludin Khan binAbdullah Khan binAbdul Malik Al-Muhajir dari Nasrabad,India binAlawi Ammil Faqih dari Hadramaut binMuhammad Sohib Mirbath dari Hadramaut binAli Kholi' Qosam binAlawi Ats-Tsani binMuhammad Sohibus Saumi'ah binAlawi Awwal binUbaidullah binMuhammad SyahrilAli Zainal 'Abidin binHussain binAli bin Abi Thalib dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAWKETURUNAN SUNAN BONANGSunan Bonang Raden Mahdum Ibrohim menikah dengan Dewi Hirah putrinya Raden Jakandar memiliki satu orang putri bernama Dewi Ruhil, dan mempunyai 2 orang putra namun belum jelas nama ibunya yaitu Dewi Ruhil Jayeng Katon Jayeng RonoMaaf kalau salah itu udah paling singkat tauuu JELASKAN SECARA SINGKAT BOLEH GAK KAK SILSILAH KETURUNAN SUNAN BONANGSilsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad• Sunan Bonang Makdum Ibrahim bin• Sunan Ampel Raden Rahmat • Sayyid Ahmad Rahmatillah bin• Maulana Malik Ibrahim bin• Syekh Jumadil Qubro Jamaluddin Akbar Khan bin• Ahmad Jalaludin Khan bin• Abdullah Khan bin• Abdul Malik Al-Muhajir dari Nasrabad,India bin• Alawi Ammil Faqih dari Hadramaut bin• Muhammad Sohib Mirbath dari Hadramaut bin• Ali Kholi' Qosam bin• Alawi Ats-Tsani bin• Muhammad Sohibus Saumi'ah bin• Alawi Awwal bin• Ubaidullah bin• Muhammad Syahril• Ali Zainal 'Abidin bin• Hussain bin• Ali bin Abi Thalib dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAWSEMOGA MEMBANTU, TOLONG JADIKAN JWBAN TERBAIK..THX Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Achmad Amru Muiz NGANJUK - Pusaka Tombak Naga Guntur kembali mengawal dan mengiringi prosesi boyong Pemkab Nganjuk dari wilayah Kecamatan Berbek. Ini setelah terakhir Pusaka Tombak Naga Guntur mengawal dan mengiringi prosesi boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk pada zaman Belanda. Perawat sekaligus Penjaga Pusaka Tombak Naga Guntur, Aris Trio Effendi menjelaskan, tidak banyak yang mengetahui dan mengerti kehadiran Pusaka Tombak Naga Guntur dalam prosesi boyong perpindahan Pemkab Nganjuk pada tanggal 6 Juni. Ini dikarenakan prosesi boyong Pemerintahan sebelumnya digelar setiap tanggal 10 April bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk namun dinilai bukan sebagai tanggal boyogan Pemerintahan Nganjuk. Oleh karena itu, Pusaka Tombak Naga Guntur tidak pernah dikeluarkan dan mengawal prosesi boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk. Baca juga Merespons Kesulitan Warga Dapatkan Gas Elpiji 3 Kilogram, Bupati Nganjuk Sidak SPBE dan Pangkalan "Dengan sudah kembali dilakukannya prosesi boyong tanggal 6 Juni dan itu sesuai dengan data sejarah boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk yang benar maka kami keluarkan dan bawa Pusaka Tombak Naga Guntur untuk mengawal prosesi boyong tersebut," kata Aries Trio Effendi, pemilik dan perawat Pusaka Tombak Naga Guntur yang juga memiliki gelar Keraton Surakarta, Raden Tumenggung Aris Puro Budoyo tersebut, kemarin. Pusaka Tombak Naga Guntur sendiri merupakan pusaka peninggalan lelulur Kabupaten Nganjuk pada zaman penjajahan Belanda. Pusaka Tombak Naga Guntur tersebut milik salah satu kerabat Kanjeng Jimat atau Bupati Pertama Kabupaten Nganjuk yang biasanya digunakan untuk berperang menghancurkan musuh pada zaman tersebut. Pusaka Tombak Naga Guntur yang kini dirawat dan disimpan oleh Aris Trio Efendi tersebut jarang dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. "Pusaka Tombak Naga Guntur itu peninggalan canggah saya yang masih kerabat Kanjeng Jimat atau Bupati Nganjuk pertama. Memang tidak semua boleh membawa Pusaka Tombak tersebut karena dikhawatirkan ada risiko bagi pembawanya kalau bukan kerabat Kanjeng Jimat," ucap Aris Trio Effendi yang juga juru kunci Candi Ngetos tersebut. Dalam membawa Pusaka Tombak Naga Guntur untuk dibawa kirab Prosesi boyong Pemerintahan Nganjuk, persyaratan yang harus dipenuhi cukup berat. Yakni Pusaka Tombak tersebut harus diiringi oleh para kerabat silsilah para Bupati yang pernah memerintah Kabupaten Nganjuk. Baik itu Bupati Nganjuk pertama yakni KRT Sosrokoesoemo I, Sosrokoesoemo III, Sosrohadikoesoemo, Notodikoro, Bupati Pace, dan lainnya. Baca juga Dikukuhkan Jadi Pembina Paralegal, Marhaen Targetkan Seluruh Desa di Nganjuk Berpredikat Sadar Hukum Para kerabat dengan dibuktikan silsilah resmi keraton Yogyakarta, keraton Surakarta, dan Mangkunegaran mengikuti kirab prosesi boyong dengan berbaris dibelakang Pusaka Tombak Naga Guntur yang dibawa sendiri oleh Aris Trio Effendi. Barisan tersebut tidak boleh dicampur melainkan harus berkelompok sesuai silsilah masing-masing dari Bupati Nganjuk terdahulu. - Pusaka Tombak Naga Guntur kembali mengawal dan mengiringi prosesi boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk dari wilayah Kecamatan Berbek. Terakhir kali, Pusaka Tombak Naga Guntur mengawal dan mengiringi prosesi boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk pada zaman penjajahan Belanda. Perawat sekaligus Penjaga Pusaga Tombak Naga Guntur, Aris Trio Effendi menjelaskan, tidak banyak yang mengetahui dan mengerti kehadiran Pusaka Tombak Naga Guntur dalam prosesi boyong perpindahan Pemerintahan Kabupaten Nganjuk pada tanggal 6 Juni. Ini dikarenakan prosesi boyong Pemerintahan sebelumnya digelar setiap tanggal 10 April bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk. Tanggal itu dikenal bukan sebagai tanggal Boyongan Pemkab Nganjuk. Oleh karena itu, Pusaka Tombak Naga Guntur tidak pernah dikeluarkan dan mengawal prosesi boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk. "Dengan sudah kembali dilakukannya prosesi boyong tanggal 6 Juni dan itu sesuai dengan data sejarah boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk yang benar, maka kami keluarkan dan bawa Pusaka Tombak Naga Guntur untuk mengawal prosesi boyong tersebut," kata Aries Trio Effendi, pemilik dan perawat Pusaka Tombak Naga Guntur yang juga memiliki gelar Keraton Surakarta, Raden Tumenggung Aris Puro Budoyo tersebut, kemarin. Pusaka Tombak Naga Guntur sendiri merupakan pusaka peninggalan lelulur Kabupaten Nganjuk pada zaman penjajahan Belanda. Pusaka Tombak Naga Guntur tersebut milik salah satu kerabat Kanjeng Jimat atau Bupati Pertama Kabupaten Nganjuk yang biasanya digunakan untuk berperang menghancurkan musuh pada zaman tersebut. Pusaka Tombak Naga Guntur yang kini dirawat dan disimpan oleh Aris Trio Efendi tersebut jarang dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. "Pusaka Tombak Naga Guntur itu peninggalan canggah saya yang masih kerabat Kanjeng Jimat atau Bupati Nganjuk pertama. Memang tidak semua boleh membawa Pusaka Tombak tersebut karena dikhawatirkan ada risiko bagi pembawanya kalau bukan kerabat Kanjeng Jimat," ucap Aris Trio Effendi yang juga juru kunci Candi Ngetos tersebut. Dalam membawa Pusaka Tombak Naga Guntur untuk dibawa kirab Prosesi boyong Pemerintahan Nganjuk, persyaratan yang harus dipenuhi cukup berat. Yakni Pusaka Tombak tersebut harus diiringi oleh para kerabat silsilah para Bupati yang pernah memerintah Kabupaten Nganjuk. Baik itu Bupati Nganjuk pertama yakni KRT Sosrokoesoemo I, Sosrokoesoemo III, Sosrohadikoesoemo, Notodikoro, Bupati Pace, dan lainnya. Para kerabat dengan dibuktikan silsilah resmi keraton Yogyakarta, keraton Surakarta, dan Mangkunegaran mengikuti kirab prosesi boyong dengan berbaris dibelakang Pusaka Tombang Naga Guntur yang dibawa sendiri oleh Aris Trio Effendi. Barisan tersebut tidak boleh dicampur melainkan harus berkelompok sesuai silsilah masing-masing dari Bupati Nganjuk terdahulu. "Mengumpulkan silsilah kerabat Bupati Nganjuk itu yang cukup berat dan harus kami lakukan untuk memenuhi syarat dibawanya Pusaka Tombak Naga Guntur dalam prosesi boyong Pemerintahan Nganjuk," tandas Aris Trio Effendi. ahmad amru muiz/ editor eben haezer Seluruh warga Nganjuk sudah tak asing lagi dengan nama Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokusumo atau yang lebih dikenal dengan dengan nama Kanjeng Jimat. Sosok Kanjeng Jimat merupakan Tumenggung dari kerajaan Mataram Islam Ngayogyakarta, seorang ulama besar yang turut andil dalam penyebaran agama Islam khususnya di wilayah Kabupaten Nganjuk pada masa Kerajaan Mataram Islam. Kedatangan Kanjeng Jimat merupakan cikal bakal berdirinya Kabupaten yang memiliki luas wilayah seluas kilometer persegi tersebut. Kanjeng Jimat yang berasal Grobogan Jawa Tengah itu merupakan putra menantu dari sultan Agung. Atas perintah dari Kerajaan Demak, Kanjeng Jimat dijadikan sebagai bupati di kota Tayo Merah pada tahun 1745 yang kemudian berubah nama menjadi Kabupaten Berbek. Menurut berbagai sumber, Kanjeng Jimat mensyiarkan ajaran Islam dimulai saat runtuhnya kerajaan Majapahit setelah mendapat serangan dari Kerajaan Demak. Dimana saat serangan tersebut terjadi mengakibatkan beberapa orang penganut Hindu mengasingkan diri hingga ke Kabupaten Nganjuk untuk menyelamatkan diri. Selain di Nganjuk, beberapa dari mereka juga pergi ke bukit Tengger di kawasan Bromo, Semeru dan lereng Gunung Wilis. Selama perjalanan mensyiarkan Islam di Kabupaten Nganjuk, Kanjeng Jimat menggunakan pendekatan Hindu-Budha dengan memadukan budaya Islam. Pendekatan yang dilakukan oleh Kanjeng Jimat berbuah manis, alhasil cukup banyak umat Hindu-Budha yang akhirnya memeluk agama Islam. Bukan perkara mudah bagi Kanjeng Jimat saat melakukan syiar Islam di penduduk Gunung Wilis. Pasalnya, sebagian besar penduduk lereng gunung Wilis masih sangat mempercayai keyakinan dari peninggalan para raja terdahulu yang masih asing dengan ajaran Islam. Namun Kanjeng Jimat tetap gigih dalam perjuangannya memperjuangkan Islam, beliau mengedepankan toleransi untuk mensyiarkan Islam dan tidak terkesan memaksakan. Sifat dermawan yang dimiliki oleh Kanjeng Jimat juga terlihat saat beliau mewakafkan sebidang tanah pekarangannya untuk didirikan sebuah masjid sebagai tempat beribadah warga yang telah memeluk agama Islam. Sedangkan beberapa warga yang tetap memegang keyakinan Hindu, oleh Kanjeng Jimat membuka sebuah lahan untuk memberikan hak hidup dan menjalankan ibadah bagi warga beragama Hindu. Lahan tersebut berada di sisi timur lereng gunung wilis yang kini dikenal sebagai Dusun Curik Desa Bajulan Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk. Saat Kanjeng Jimat meninggal pada tahun 1766, beliau dimakamkan berada tepat di sebelah barat Masjid Al Mubarok di kawasan Desa Kacangn Kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk atau kurang lebih sekitar 9 kilometer dari pusat kota Nganjuk. Saat memasuki pintu makam, peziarah akan disuguhkan dua patung macam putih yang tak lain adalah simbol hewan peliharaan Kanjeng Jimat saat melakukan syiar Islam di wilayah Nganjuk. Namun, apabila dilihat lebih dekat pintu masuk menuju makam Kanjeng Jimat tersebut tidaklah tinggi, kurang lebih tingginya hanya 2 meter. Pintu masuk yang di design tidak tinggi tersebut ternyata memiliki arti filosofis tersendiri, hal itu mengandung sebuah pesan bahwa peziarah harus menundukkan kepala saat akan masuk ke dalam area makam Kanjeng Jimat. Makam Kanjeng Jimat sendiri dibalut dengan kain berwarna hijau dan aksen garis dengan warna kuning keemasan. Terdapat tiga payung bersusun tiga yang terbuat dari kain berwarna kuning keemasan berdiri tegak di salah satu sisi pusara makam Kanjeng Jimat. Bila dilihat di sisi timur, peziarah bisa melihat sebuah tulisan Jawa dan Arab berisikan tentang pesan-pesan kebaikan yang ditulis langsung oleh Kanjeng Jimat. Tulisan tersebut terbaca “Puniko Pesarean Kanjeng Ratu Toemenggung Sosro Kusumo”. Di makam Kanjeng Jimat juga diselimuti oleh kelambu berwarna putih dan kuning kurang lebih berukuran 3,4 meter serta diberi kerangka berbahan kayu jati dengan tinggi 2 meter dan panjang 3,4 meter. Sementara itu, di sebelah barat makam Kanjeng Jimat, juga terdapat makam bupati Bupati Nganjuk kedua yakni Raden Tumenggung Sosrodirjo yang tak lain adalah adik dari Kanjeng Jimat. Menurut informasi, Raden Tumenggung Sosrodirjo ini menjabat sebagai Bupati Nganjuk kedua pada tahun 1760. Sedikit bergeser ke sebelah timur, terdapat makam Raden Tumenggung Sosrokusmo II, merupakan putra dari Kanjeng Jimat yang menjadi Bupati Nganjuk ketiga pada masa jabatan tahun 1831 hingga 1852. Masih di area makam, terdapat beberapa benda peninggalan Kanjeng Jimat seperti gentong kuno berisi air yang diketahui bersumber dari sumur peninggalan dari Kanjeng Jimat. Masyarakat sekitar percaya bahwa air didalam sumur peninggalan tersebut tidak pernah surut meskipun pada musim kekeringan. Diketahui, sebelum masjid Al Mubarok dibangun, kawasan masjid tersebut merupakan kawasan yang dekat dengan perkuburan Pangeran Singosari. Saat kedatangan Kanjeng Jimat, kawasan tersebut diperbaiki dan diperluas, sedangkan area perkuburan Pangeran Singosari tersebut masih berada tepat di sebelah utara Masjid Al Mubarok. Menurut beberapa literatur, Masjid Al Mubarok tersebut dibangun Kanjeng Jimat pada tahun 1830. Namun, pada tahun 1832 Kanjeng Jimat meninggal dunia dan pembangunan masjid dilanjutkan oleh adik Kanjeng Jimat yakni Pangeran Sosrodirjo. Jika dilihat lebih dalam, struktur bangunan pada Masjid Al Mubarok menggunakan akulturasi atau perpaduan budaya Islam, Hindu dan Cina. Hal tersebut terlihata pada struktur material bangunan mulai dari penyusunan batu bata, ukiran, mimbar dan bedug. Bahkan, terdapat 4 tiang yang hingga saat ini masih terlihat sepert patahan kayu dan masih dalam keadaan utuh. Karena memiliki unsur sejarah dan budaya yang kental, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan Masjid Al Mubarok sebagai bangunan cagar budaya pada tahun 2016. Hingga saat ini pun, makam Kanjeng Jimat dan Masjid Al Mubarok terus dibanjiri oleh para peziarah dari beberapa kota di Jawa Timur maupun dari luar Jawa Timur. Baca jugaMakna Lakon Wayang Kulit Bima Suci Buat Anies BaswedanLahir Rabu Kliwon, Anies Baswedan Masuk Circle Weton PresidenKisah Unik Wan Sehan di Rumah Anies BaswedanPeran Alim Ulama dalam Merekatkan Kembali Kesadaran Berbangsa dan BernegaraUngkapan Anies Baswedan untuk Kondang Sutrisno Selamat Jalan Pejuang Artikel Terkait

silsilah keturunan kanjeng jimat nganjuk